Apakah kita memandang kearah yang sama ?
Malam
dan masa silam. Setidaknya kali ini padang rumput ini mengijinkanku untuk
berbaring, membiarkanku menyusun kembali ingatan bersamanya.
Rembulan
kala dua kali dua belas bulan lalu, mengingatkanku pada senyum manismu, 3 janji yang kau
ukir amat dalam, di kedalaman hati.
Janganlah kau biarkan aku sendiri, pintamu.
Sedari detik itulah aku rela bernafas, menemanimu menghabiskan
hari.
Biar aku memeluk lenganmu, kau bisikkan itu dengan
lengkungan manis di bibirmu.
Karena itulah, aku ingin memikul beban yang biasa kau
tanggung di tangan kananmu, hanya karena aku yang bisa menjamahmu.
Nikahilah aku sewaktu aku dewasa nanti, katamu dengan
pipi yang makin lama makin merah.
Saat itulah aku melontarkan rangkaian “Aku bersedia”
begitu saja, dengan entah apa yang merasuki tubuh cungkring ini.
Dia berbeda denganku, 2 tahun 3 bulan.
Dia berbeda denganku,
Dia lebih dari sekedar permata
Dia menyukai saat aku mengatakan bahwa aku di sini, di
padang rumput yang tak terhingga ini, menyaksikan bintang bersinar untuk
menerangi kisah kita.
Dia, juga menyukai masa masa dimana kami melihat
titik-titik cahaya kecil di langit bersama, dan bertanya-tanya apakah kami
melihat langit yang sama, ke arah yang sama.
Kami tak mampu berkata banyak saat kami bertatapan muka
langsung di sekolah, namun kami mampu berkata banyak saat kami menghabiskan
detik demi detik berdua dan selama itu terjadi, bumi ini hanya ditempati 2
orang saja.
Kami masih bocah sekolahan, merupakan alasan mengapa kami
harus tetap kembali ke sarang masing masing saat malam menyambut. Namun itu
bukanlah tangga terputus bagi kami, karena kotak kecil ajaib bertuliskan Nokia
bisa membuatku merasakan wanginya, suara lembutnya, tertawa manisnya, semuanya
merusak indraku.
Jika ada kesulitan saat kerja matematika, aku siap
membantu.
Jika ada saran yang ingin kau petik dari aku, aku siap
memberikannya.
Jika ada timbal, pasti ada balik. Apa yang merupakan
balik bagiku ?
Aku memanglah seorang lelaki. Tapi itu tak akan membuatku
menjawab bersamanya saja aku sudah terbang ke langit ke-9. Aku akan menjawab,
aku hanya ingin menepati janji yang kami sepakati. Melihatnya senang karena aku
berhasil menepati janjinya sudah merupakan imbalan yang pas untuk seorang
penyendiri.
Kemudian datanglah hari.
Dimana hari itu kami bertengkar.
Yang mesti dipersalahkan ialah si salah paham.
Salah paham, memicu sebuah titik balik kisah kami.
Sebuah konflik diamana aku merasa mulutku terjahit,
tanganku terikat kawat berduri.
Hatiku serasa dijejali semua makanan pahit di jagat ini.
Semua janji, mimpi, cinta yang kami susun bersama,
diselesaikan dengan kata “Cukup, aku tidak ingin mendengar kau bersuara, lagi.”
Jika sudah begini, siapa yang patut dipersalahkan ? Ketakutan
kami ? Sakit hati kami ? Nafsu kami ? Ego kami ? Emosi kami ?
Aku. Inilah salahku. Apakah iya, akupun tidak tahu, juga
tidak ingin menggapai pengertian itu.
2 Agustus hari Sabtu, di bawah langit biru, tanggal
persis dimana kau menyapaku pertama kalinya, sapaan yang berhasil menembus
kesunyian sukma.
12 Agustus hari Selasa, disinilah beta, dibawah kaki
bintang bintang di langit, di utopia yang mana biasa aku nikmati bersamanya,
kini menjadi tempat bagi seorang apatis ini. Menulis memori bersama rerumputan
yang seakan akan mengerti bagaimana perasaanku ini, meski telah 2 tahun yang
lalu aku merasa seperti dibunuh.
Tapi apakah ini sebuah pertanda ?
Berjalan 7 langkah ke depan dan aku melihat banyak orang.
Ada yang berpasangan, ada yang berkeluarga. Mereka semua menaruh bokong mereka
di tanah, mendongak ke atas langit dan seakan menikmati bintang yang tercecer
indah di langit hitam kelam.
Kebersamaan dan
cinta terlihat jernih meski aku hanya melihat punggung mereka. Namun satu hal
yang membuatku merasa senang ialah, kenyataan bahwa sepertinya, aku memang
penyendiri di sini, namun aku tidaklah sendiri.
Cepat atau lambat aku yakin, sesuatu yang lebih
indah dari yang lebih dari sekedar permata, akan menjadi cahaya bagi mata yang
terbutakan. Betul, kini aku memang mengharapkan sebuah mutiara, namun apakah
lalu kemudian Tuhan bersabda dan memberikan aku apa yang kuinginkan, atau malah
sebuah bintang ? Itu akan selalu menjadi misteri.