Pages

Tuesday, 6 October 2015

Stroberiku


Namaku Diva. Aku hanyalah seorang wanita. Ada sebuah pengalaman yang tak terlupakan bagiku. Aku ingat, waktu itu kala senja mulai merambat dan langit sore yang cerah berawan, menunjukan suasana pantai yang sangat sepi. Aku duduk di sebelahnya, dan aku bersandar di bahunya yang sangat nyaman itu. Aku melihat pemandangan, dan menoleh sesekali untuk melihat wajah laki-laki yang kucintai. Sesekali aku menyaut perkataanya. Matanya yang coklat dan tajam, serta bibirnya yang tebal itu selaras dengan kulitnya yang coklat, yang selalu terlihat manis di depan mataku. Aku sangat mencintainya. Namanya Rafael, dia adalah kekasihku sejak awal bulan Maret setahun lalu. Aku memang kebetulan bertemu dengannya, namun akhirnya aku jatuh cinta kepadanya seiring waktu berjalan. Ini merupakan ke-3 kalinya usai pertengkaranku dengannya akibat rasa cemburuku dan banyaknya gosip yang beredar tentang dia yang selalu dekat dengan wanita lain. Walau dikatakan tidak, sebenarnya aku merasa cemburu setiap kali dia dekat dengan wanita lain. Tapi apa daya aku hanya bisa menyembunyikan rasa sakitku ini sendirian. Saat ini pula, bersama dia, aku ingin menyampaikan sesuatu kepadanya,  walaupun mungkin akan berat, tetapi aku ingin menyampaikannya kepadanya.
Satu jam sudah kami di sini dan aku hanya diam tak dapat berbicara dengannya. Entah kenapa, lidahku selalu kelu tiap kali aku ingin mengutarakan sesuatu kepadanya, atau bila tidak, aku sering lupa apa yang ingin aku sampaikan padanya. Aku hanya dapat diam dan bersandar di bahunya untuk melihat suasana pantai itu. Tiba-tiba dia memulai percakapan kami dengan candaan, dan menggodaiku untuk memancing emosiku. Aku selalu kesal setiap kali dia menggangguku, dan dia selalu tertawa setiap kali melihat dirinya berhasil membuatku marah. Dia selalu tertawa lepas, sementara aku tak bisa mengelak senyumannya itu yang selalu membuatku luluh. Aku mulai berani dan bisa bertanya kepadanya.
”Say… apakah kau masih mencintai dan menyayangiku? Aku hanya ingin tau jawabanmu…”, kataku.
“Iya, memang kenapa?”, jawabnya dengan santai.
“Aku merasa kau mulai berubah…”
“Apa maksudmu yang berubah?”
“Kamu tau aku emang nggak pernah memberi tahu kamu sesuatu. Sebenarnya aku sangat suka stroberi dari kecil. Papaku suka menanam stroberi bersamaku. Setiap musim panen, aku biasanya memanggil teman-temanku untuk datang ke rumahku untuk belajar kelompok, namun sebenarnya tujuannya bukan hanya belajar tetapi juga untuk memetik stroberi bersama-sama. Kadangkala kita bertengakar, karena  sebuah stroberi tak mungkin bisa dimiliki oleh 2 orang. Maka dari itu, mereka selalu berebutan untuk mendapatkannya, dan kau pasti tau kan bentuk stroberi itu bermacam-macam, ada yang besar dan ada yang kecil. Rasanya juga ada yang manis dan ada yang kecut, tetapi walaupun stroberi sangat kecut, aku sangat menyukainya. Dan aku akan memakannya walaupun aku tak tau apa yang akan terjadi padaku nanti jika makan terlalu banyak. Mungkin juga aku akan sakit tapi tak akan kupikirkan. Aku selalu suka dengan stroberi, dan juga aku nggak bisa melupakan rasa dari stroberi itu. Memang kemanisannya akan selalu kuingat dan kekecutannya selalu kulupakan. Meskipun aku sering memakan buah-buah yang lain seperti apel atau pun jeruk, entah kenapa stroberi itu tak bisa tergantikan di benakku. Aku selalu menyukainya dan akan terus menyukainya walaupun tak tau akan sampai kapan. Begitu juga dengan perasaanku kepadamu, apakah kau sadar sudah berapa kali kau buatku menangis? Untuk berapa kali dan berapa lama lagi aku harus menahan semua sakit yang kupendam ini. Kau selalu mengulangnya, kau juga selalu berkata tak akan melakukan itu lagi. Tetapi tetap saja, yang aku lihat itu tak sama seperti yang kamu katakan. Kau telah berubah, dan kau bilang ini lebih dari sekedar pertemanan, tapi sama saja terlihat seperti pertemanan biasa bagiku. Ya, aku tau aku tak bisa melarangmu karena aku mungkin akan mengatur kamu, namun aku juga tak mau mengekangmu. Aku hanya ingin bertanya satu hal lagi kepadamu...”
“Aku tak bisa banyak bicara... Tapi apa itu apa yang ingin kau tanyakan?”,jawabnya kepadaku.
“Apakah kau masih mencintai dan menyayangiku? Sampai kapan aku akan menahan sakit dan berapakali aku harus menangis karena itu? Andaikan kau benar-benar serius denganku, aku hanya menginginkan bukan meminta kepada kamu untuk mengerti perasaanku, mengerti apa yang aku rasakan. Dan apabila kau tidak akan meneruskan hubungan kita ini, hanya satu yang akan kupastikan. Andaikan aku putus denganmu, aku akan memilki tiga jalan yaitu apakah aku akan mendapat penggantimu, atau aku menunggumu, atau aku akan menutup hatiku dan aku akan masuk menjadi seorang biarawati. Dengan begitu, aku akan menyerahkan diriku sepenuhnya kepada Tuhan.”
***

No comments:

Post a Comment