Tuesday, 6 October 2015
Luke
Pertanyaannya membuat aku teringat akan kenangan itu. Semuanya lengkap. Ada anakku tercinta, ayahnya, dan aku. Hidup kami penuh dengan tawa dan canda. Luke. Namanya Luke, anak satu-satunya aku yang aku miliki. Mendapatkannya butuh pengorbanan yang cukup. Bertahun-tahun setelah pernikahanku dengan suamiku, kami berusahan untuk mendapatkan momongan. Setiap hari aku dan suamiku berdoa memohon kepada Sang Pencipta agar kami segera diberikan seorang anak, yang nantinya akan merawat kami berdua. Setelah enam tahun menanti, akhirnya kami mendapat seorang anak laki-laki yang sangat lucu. Hari-hari kami jalani dengan penuh sukacita.
Tiga tahun setelah Luke lahir, suamiku meninggalkan kami, dimana saat itu baru saja Luke belajar berbicara. “Kenapa ayah hanya diam bunda??” aku menarik nafas sambil menghapus air mata, lalu aku berkata kepadanya bahwa ayahnya sudah di Surga, kupeluknya dengan erat. Luke hanya tersenyum. Dia tumbuh menjadi seorang anak yang cerdas serta aktif di sekolahannya. Ketika itu umurnya baru tujuh tahun, aku selalu mengantar dan menemaninya latihan sepakbola di sekolahnya. Meskipun dia bukanlah anak yang handal dalam bidang ini, tapi aku sebagai orangtuanya akan selalu mendukungnya. Aku selalu duduk diantara orangtua yang lain, dan selalu tersenyum meskipun terkadang dia salah memasukan bola ke daerah lawan, dengan semangat yang penuh ia selalu mencoba untuk memasukan. Ada rasa kecewa dalam hati saat pertandingan dia hanya sebagai pemain cadangan, dan jarang sekali ia bermain.
Terkadang aku merasa sangat lelah, karena sebelum mengantar Luke latihan, aku harus membanting tulang terlebih dahulu untuk membayar biaya sekolah dan kebutuhan sehari-hari. Meskipun ada ibu yang menjaganya di rumah, tak mungkin kuserahkan semuanya kepadanya. Aku dan ibu selalu bergantian menjaga Luke. Semua letih lesu itu hilang ditelan bumi saat aku melihat senyum dan tawanya. Sampai akhirnya dia pergi sendiri, dan saat itu ada pertandingan. Dengan wajahnya yang polos, Luke memohon kepada pelatihnya agar kali ini dia diizinkan untuk mengikuti pertandingan ini, Karena sang pelatih kasihan melihat wajahnya akhirnya diberi kesempatan hanya saja dibabak pertama, dengan penuh semangat Luke menendang bola dan mencetak gol untuk timnya. Pelatihnya sangat senang dan tepukau melihat perkembangan Luke. Saat istirahat pelatihnya memujinya “Wah… hebat sekali kamu, Luke. Pasti orangtuamu bangga padamu.” Seketika itu mata Luke berkaca-kaca. Pelatihnya kebingungan. “Kamu kenapa?? Bukan kah ini yang kamu inginkan? Lalu kenapa kamu menangis?? Mana mamamu, bisanya beliau duduk diantara orangtua yang lain, pasti ia bangga melihat kamu Luke.” Mata yang mencari-cari mamanya Luke. Sambil menghapus air mata Luke menjawab, bahwa selama kedua orang tuanya hidup Luke belum bisa membahagiakan mereka, tapi Luke percaya bahwa kedua orang tuanya di Surga akan bangga melihat dia dapat mencetak gol. Mamanya baru saja meninggal seminggu yang lalu, karena kecelakaan yang menimpanya, yang mengakibatkan beliau meninggal seketika.
Iya anakku. Aku sudah bertemu dengan ayahmu. Kami bangga melihat engkau tumbuh menjadi anak yang pintar, kami senantiasa mendoakanmu di sini. Aku masih ingat saat pemakaman itu, Luke sempat bertanya, apakah aku mengikuti ayahnya. Dan air mata pun mengalir dipipiku saat peti akan ditutup. Aku senang melihat Luke senang.
Luke anakku, aku senang melihat kau senang, tumbuhlah kau menjadi anak yang baik. Doaku besertamu. –Bunda-
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment