Pages

Tuesday, 6 October 2015

SEKILAS PRIYA

Priya dan si itik. Mereka memang hidup di dunia yang berbeda. Derajat yang berbeda, bahkan perasaan yang berbeda. Namun memiliki satu kesamaan sifat. Yaitu sifat untuk membenci. Membenci mereka yang telah dengan berani menyayat hatinya.

Suara itik yang menggemaskan itu sama sekali tak memecah keheningan Priya. Ia tetap terfokus pada lukisan cakar ayamnya di tanah. Dicorat-coret sana-sini. Bagaikan sebuah irama antara hentakan kaki itik yang semakin mengeras, serta gesekan di sana yang semakin menekan, memaksa.
    Ketika si itik bertanya apa yang sedang gerangan lukis, Priya tak menggubris. Dianggapnya pertanyaan itu hanya berupa angin lalu.
    “Itu lukisan?” tanya si itik.
    “Bukan,” jawab Priya ketus.
    “Lalu?”
    “Ini pesan.” Priya hanya menjawab pendek, dengan bibirnya yang mengerucut, dihiasi dengan dahi yang mengkerut.
    “Apa isinya?”
    “Untuk apa kau tahu?” kata Priya, “lagian kau bukan bagian dari kaum kita,” lanjutnya sambil memalingkan wajah pada si itik.
    Itik terdiam. Diam seribu bahasa. Tak berani melawan Priya yang merupakan cucu majikannya. Ia memang terkenal seperti itu pada saat-saat tertentu. Dapat berubah sewaktu-waktu.
    Si itikpun melihat ke sekeliling. Ditemuinya sebuah titik kejadian. Menatap lurus-lurus ke sana. Tatapannya kosong.
    Ia melihat seekor ayam jantan yang sedang mengejar si betina. Awalnya, si betina lebih sering menghindar ketika didatangi si jantan. Tapi karena beberapa patukan keras menyodok lubang kewanitaan si betina yang terdapat di punggungnya, ia mulai luluh. Berkokok, dan terus berkokok sambil mengepakkan sayapnya.
    Dan ironisnya, ayam jantan itu adalah induk si itik yang sedang berdiri tepat di samping lukisan Priya. Tapi mungkin tak terasa ironis sedikitpun bagi para itik yang pernah merasakannya.

***

    Priya pikir ayam itu sedang bertengkar. Tapi ternyata tidak.
    “Enak, ya. Kau tak perlu khawatir.”
    “Tentang apa?” tanya si itik kaget, mendengar suara Priya yang menyambar tiba-tiba.
    Priya hanya menjawab dengan menunjuk ke arah titik kejadian itu dengan dagunya.
    “Kau hanya perlu melihat kejadian itu, tanpa perlu merangkai kata ‘Itu bapakku’,” lanjut Priya. Si itikpun dibuat kebingungan. Apa maksudnya?
    “Lagipula, emakmu dapat melakukannya juga sewaktu-waktu dengan misalnya yang di sana,” Priya menunjuk ke arah ayam jantan lain yang sedang mematuki beras-beras yang berceceran.
    “Aku bahkan tak mengerti maksudmu,” jawab si itik sambil memiringkan kepalanya ke kiri.
    “Kau memang tak mengerti. Karena tak punya perasaan, juga akal budi.”
    Alasan mengapa Priya berkata seperti itu memang sepertinya sepele. Padahal tidak.
    Itu disebabkan oleh bapaknya, yang telah mewarisi benih-benih kebencian, untuk membenci orang yang mewariskan.
    Waktu itu hari mulai sore, hampir pukul empat. Tapi suasana bagaikan sudah malam saat ibunya mendengar kabar tersebut. Hatinya suram mirip langit malam.
    Bagaimana tidak? Sebulan sebelum resepsi dilaksanakan, ia malah mendengar kabar bahwa calonnya telah melakukan hal yang sama seperti ayah si itik. Tambah suram lagi jika pikiran tak dapat membatalkan resepi tersebut terlintas dalam benaknya. Karena sudah sebulan lagi waktunya. Bayangkan saja jika seorang gadis perawan harus menikahi lelaki yang sudah kehilangan keperjakaannya.
    Parahnya lagi, ia melakukan yang lebih dari sekedar nikah. Ia mengawininya. Sikap bapaknya seakan sama dengan yang ayah si itik lakukan, walaupun tentu bukan di pekarangan rumahnya.
    Dan dari sebuah perbuatan paling terhina itulah, Priya lahir. Seorang anak yang sungguh malang, yang harus menanggung warisan bapaknya seumur hidup.
    Walau tadinya ia sudah berminat memaafkan perbuatan ternoadai tersebut, tapi tak jadi dilakukannya setelah melihat telinga bapaknya berkucur darah. Emak lagi yang mengobatinya. Emak lagi, emak lagi. Dari situlah Priya mulai mengetahui kalau wanita ketiga yang dikawini bapaknya beberapa waktu lalu mulai tahu kalau hidup keluarga Priya lebih makmur daripada keluarganya, lalu memukuli kepala bapaknya dengan gesper hitam.
    Meski Priya sedikit menyukai sisi adil bapaknya dengan memberi lebih pada yang sah, ia tetap tak bisa melepeh mentah-mentah apa yang telah diwariskan dari awal kehidupannya. Kata balas dendam yang tadinya tak ada di kamusnya, sekarang ia tulis dengan bulpoin bewarna merah dengan pengertian, ‘sesuatu yang harus kau tunjukkan kelak dengan keberhasilanmu untuk mengimpasi warisan bapak’.

***

    “Lalu pernahkah kau bertanya pada ibumu mengapa masih melanjutkannya?”
    “Pernah. Kau?”
    “Tentu tidak. Karena indukku tak mungkin melanjutkan hidupnya hanya dengan satu ekor pejantan saja.”
    “Itu karena ibumu ayam. Emakku? Ia seekor angsa. Bacalah filosofi kehupan angsa kelak saat kau bisa membaca.”
    Ya, gadis berambut kriting ini memang pernah menanyakannya. Dengan segala keberanian, ia bertanya pada emaknya. Mengapa gerangan masih ingin menetap di rumah penuh dosa ini saat sudah mengetahui bahwa ialah yang kedua dari ketiganya.
    Emak yang sungguh penyabar inipun mejawab, kalau ia pernah bermimpi tentang pasangannya yang hanya mencintai dirinya, bukan yang lain. Walaupun yang dibiayai ada tiga atap keluarga.
    Jadi begitu mak, hanya soal cinta?
    Lalu ia pula yang bertanya empat mata pada bapaknya dengan pertanyaan yang pastinya berbeda. Karena bapaknya, hidup di tiga dunia.
    Jawabannya lumayan tak masuk akal. Karena ia banyak berhutang pada mereka yang dibanguninya sebuah keluarga. Kecuali emak, yang ternyata memang merupakan cinja sejatinya.
    Jadi begitu pak, istilahnya, kau hanya mengawini atas dasar balas budi? Apakah daya tangkapku kali ini benar?
    “Lalu? Itu semua ada hubungannya dengan lukisan ini?” tanya si itik sambil menginjakkan kakinya dua kali di dekat goresan-goresan tanah padat itu.
    “Ini bukan lukisan, tik. Ini tulisan.”
    “Apa bacanya?”
    “Aku bingung, kau mengerti bahasa manusia, tapi tak bisa membaca.”
    “Dulu aku bisa membaca. Tapi aku memutuskan untuk tak melanjutkannya karena pejantan itulah yang mengajariku.”
    Si itik mengarahkan pandangan pada titik kejadian yang masih berlanjut itu.

ERIKA MULYADI
XI-IBB / 3

No comments:

Post a Comment