Oleh: Satrya Paramanandana
Kuberjalan di tengah kegelapan. Sunyi senyap. Hening.
Demikianlah hidupku, begitu hampa dan hambar.
Tak kusangka, sebuah cahaya muncul dari tempat tak terduga.
Dia adalah seorang bidadari, yang kelak menerangi hari-hariku.
“Woi Rama! Lu liburan ke mana aja?,” tanya Rendi, sahabat karibku. “As always, mengurung diri di rumah tercinta,” balasku dengan ogah-ogahan. Siapa yang tidak bosan, liburan 1 bulan hanya dihabiskan untuk bermain konsol game dan laptop, dikarenakan budget di kantong yang menipis . Dan siklus itu berlangsung selama 3 minggu liburan. “Aku dong, pergi ke Jakarta main di Mall of Indonesia,” pamer si Rendi. Evan, temanku yang lain, pamer akan skor dalam permainan Pump it Up. “Jangan sedih dulu, Ram. Entar kira ke Matos aja, ‘kan nanti pulang pagi,” hibur Rendi.
Hari itu adalah hari pertamaku masuk sekolah di jenjang 2 SMP. Dengan sambutan sarkastik dari teman-teman yang semacam, “Tambah tinggi aja lu, Ram”,”Tumben agak kurusan”, dan lain sebagainya, membuat suasana hati semakin muram. Suara teriakan bersahut-sahutan di kelas dan bentakan guru wali kelas semakin merusak suasana hati. Tetapi, terjadi sebuah kejadian tak terlupakan di saat perubahan tempat duduk.
“Baik anak-anak. Saatnya kita merolling posisi tempat duduk kalian,” yang disambut dengan teriakan, “Bu Guru payah”, “Gile lu, bu !”, serta kata-kata ‘kebun binatang’. “Kalian mau protes bagaimanapun, itu percuma. Ini sudah keputusan bulat,” tukas Bu Guru. “Tanpa perlu berlama-lama lagi, kamu yang situ, pindah ke bangku depan sebelah kiri saya ini !”, sembari menunjuk ke arahku. Dengan langkah lunglai, wajah lesu, dan sorakan dari teman-teman, kuberjalan ke arah yang ditunjuk. Namun, semua itu berubah ketika aku melihat ke bangku kiriku. Seorang bidadari telah menungguku.
Perasaan apakah ini? Gembira, terharu, dan semangat yang muncul tiba-tiba, bercampur aduk menjadi satu. Tak pernah kualami perasaan kompleks ini sebelumnya. Seorang gadis berkacamata adalah penyebab perasaan ini. Orang lain bisa berkata, apa spesialnya? Apa yang membuat kamu terpikat? Dia itu orang yang biasa aja. Tidak, aku tidak melihat dari fisiknya. Entah kenapa rasa ini memicu jantung untuk berdegup lebih kencang serta tangan yang bergemetar. Ketika terdengar suara, “Hai, aku Marie. Nama kamu siapa?” dunia seakan-akan runtuh dan pintu surga terbuka lebar.
“Perkenalkan, aku Rama. Dulu aku di kelas 7C,” sahutku sambil menundukkan kepala. “Hei, kamu punya Facebook, gak ?”,”Ada sih, Rama Tirta”,”Nanti kalau ada invitation dari Rei Vine-chan, tolong accept ya?”,”Oke, siap !” jawabku. Entah aku kesambet apa, kok tiba-tiba aku tanya, “Nomor hape kamu berapa?” Ia menulis di sepotong kertas dan memberikannya seraya berkata, “Check lewat WhatsApp aja. Pulsaku habis untuk paketan itu soalnya.” Hati bersorak-sorai dan berteriak, “Yeah, akhirnya berhasil!”
Dewi rembulan dan pasukan bintangnya mulai menampakkan wujudnya. Angin malam bertiup perlahan. Aku yang muncul dari kamar mandi sambil memakai baju, mulai mengotak-atik hape serta mengetik, “Hai, ini Rama. Tolong disave ya :v.” Ting-tong, bunyi notifikasi hapeku berbunyi. Tertulis di situ, “Oh, hai ! By the way, kamu udah kerja PR?”,”Sudah dong..” Tentu saja aku belum mengerjakannya. Tetapi, kalau sang bidadari tahu, tentu saja semuanya tidak akan berakhir dengan baik.
Ada sebuah teori, cahaya tak bisa ditangkap. Tak bisa digenggam. Hanya bisa dilihat dan dinikmati kehangatannya. Benar, teori itu terbukti. Secercah cahaya yang fana, berwujud tetapi tak bisa digenggam. Cahaya itu adalah harapanku, api hidupku. Harapanku? Benar, tetapi harapan tak harus selalu terwujud, bukan?
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment