Pages

Monday, 24 October 2016

Musim Melihat Bintang


 
Apakah kita melihat langit yang sama ?

Apakah kita memandang kearah yang sama ?

 

Malam dan masa silam. Setidaknya kali ini padang rumput ini mengijinkanku untuk berbaring, membiarkanku menyusun kembali ingatan bersamanya.

Rembulan kala dua kali dua belas bulan lalu, mengingatkanku pada senyum manismu, 3 janji yang kau ukir amat dalam, di kedalaman hati.

Janganlah kau biarkan aku sendiri, pintamu.

Sedari detik itulah aku rela bernafas, menemanimu menghabiskan hari.

Biar aku memeluk lenganmu, kau bisikkan itu dengan lengkungan manis di bibirmu.

Karena itulah, aku ingin memikul beban yang biasa kau tanggung di tangan kananmu, hanya karena aku yang bisa menjamahmu.

Nikahilah aku sewaktu aku dewasa nanti, katamu dengan pipi yang makin lama makin merah.

Saat itulah aku melontarkan rangkaian “Aku bersedia” begitu saja, dengan entah apa yang merasuki tubuh cungkring ini.

Dia berbeda denganku, 2 tahun 3 bulan.

Dia berbeda denganku,

Dia lebih dari sekedar permata

Dia menyukai saat aku mengatakan bahwa aku di sini, di padang rumput yang tak terhingga ini, menyaksikan bintang bersinar untuk menerangi kisah kita.

Dia, juga menyukai masa masa dimana kami melihat titik-titik cahaya kecil di langit bersama, dan bertanya-tanya apakah kami melihat langit yang sama, ke arah yang sama.

Kami tak mampu berkata banyak saat kami bertatapan muka langsung di sekolah, namun kami mampu berkata banyak saat kami menghabiskan detik demi detik berdua dan selama itu terjadi, bumi ini hanya ditempati 2 orang saja.

Kami masih bocah sekolahan, merupakan alasan mengapa kami harus tetap kembali ke sarang masing masing saat malam menyambut. Namun itu bukanlah tangga terputus bagi kami, karena kotak kecil ajaib bertuliskan Nokia bisa membuatku merasakan wanginya, suara lembutnya, tertawa manisnya, semuanya merusak indraku.

Jika ada kesulitan saat kerja matematika, aku siap membantu.

Jika ada saran yang ingin kau petik dari aku, aku siap memberikannya.

Jika ada timbal, pasti ada balik. Apa yang merupakan balik bagiku ?

Aku memanglah seorang lelaki. Tapi itu tak akan membuatku menjawab bersamanya saja aku sudah terbang ke langit ke-9. Aku akan menjawab, aku hanya ingin menepati janji yang kami sepakati. Melihatnya senang karena aku berhasil menepati janjinya sudah merupakan imbalan yang pas untuk seorang penyendiri.

Kemudian datanglah hari.

Dimana hari itu kami bertengkar.

Yang mesti dipersalahkan ialah si salah paham.

Salah paham, memicu sebuah titik balik kisah kami.

Sebuah konflik diamana aku merasa mulutku terjahit, tanganku terikat kawat berduri.

Hatiku serasa dijejali semua makanan pahit di jagat ini.

Semua janji, mimpi, cinta yang kami susun bersama, diselesaikan dengan kata “Cukup, aku tidak ingin mendengar kau bersuara, lagi.”

Jika sudah begini, siapa yang patut dipersalahkan ? Ketakutan kami ? Sakit hati kami ? Nafsu kami ? Ego kami ? Emosi kami ?

Aku. Inilah salahku. Apakah iya, akupun tidak tahu, juga tidak ingin menggapai pengertian itu.

2 Agustus hari Sabtu, di bawah langit biru, tanggal persis dimana kau menyapaku pertama kalinya, sapaan yang berhasil menembus kesunyian sukma.

12 Agustus hari Selasa, disinilah beta, dibawah kaki bintang bintang di langit, di utopia yang mana biasa aku nikmati bersamanya, kini menjadi tempat bagi seorang apatis ini. Menulis memori bersama rerumputan yang seakan akan mengerti bagaimana perasaanku ini, meski telah 2 tahun yang lalu aku merasa seperti dibunuh.

Tapi apakah ini sebuah pertanda ?

Berjalan 7 langkah ke depan dan aku melihat banyak orang. Ada yang berpasangan, ada yang berkeluarga. Mereka semua menaruh bokong mereka di tanah, mendongak ke atas langit dan seakan menikmati bintang yang tercecer indah di langit hitam kelam.

 Kebersamaan dan cinta terlihat jernih meski aku hanya melihat punggung mereka. Namun satu hal yang membuatku merasa senang ialah, kenyataan bahwa sepertinya, aku memang penyendiri di sini, namun aku tidaklah sendiri.
Cepat atau lambat aku yakin, sesuatu yang lebih indah dari yang lebih dari sekedar permata, akan menjadi cahaya bagi mata yang terbutakan. Betul, kini aku memang mengharapkan sebuah mutiara, namun apakah lalu kemudian Tuhan bersabda dan memberikan aku apa yang kuinginkan, atau malah sebuah bintang ? Itu akan selalu menjadi misteri.

Tuesday, 6 October 2015

Jejak Tak Bernoda

❒ Nadhia Faith

    Aku mendekat, engkau menjauh. Itu yang kau sebut cinta?
   
    Di saat kau mempermasalahkan kekuranganku. Itu yang kau sebut cinta?

    Engkau pernah berjanji, mencintaiku sampai akhir hayat nanti.

    Kau penuhi rongga dadaku dengan janjimu yang pilu.

    Janji-janji manis yang kau ucap, untuk menua denganku, untuk mencintaiku tanpa batas.

    Sesak kau buat.

    Meninggalkanku dalam keheningan. Itu yang kau sebut cinta?

    Janji mulia yang keluar dari bibir indahmu, tenggelam dalam samudra ketidakpastian.

    Inilah kisah cintaku yang pernah bergantung pada sebuah kata yang semu. Kata yang kau corengkan pada hatiku.

    Cintamu begitu tajam, bagai ujung keris terlancip di negeri Jawa. Dan hatiku lah kayumu, tempat kau mengukir nama kita berdua dalam suatu bentuk hati dan anak panah, simbol kekuatan cinta kita. Sejak itu pun, hatiku tak pernah berhenti berdarah. Awalnya aku merintih kesakitan. Awalnya, aku mempertanyakan cintamu. Mengapa kau lakukan itu bila kau cinta? Menggoreskan sayatan tajam pada hati seorang wanita tanpa daya sepertiku. Kau tak menjawab, melainkan kau bungkam semua pertanyaanku dan kau segel bibir ini dengan sebuah kecupan. Dalam sepersekian detik aku luluh, tak perlu banyak bicara, aku mempercayaimu seketika. Kau bilang seperti itulah cinta. Bak tatto, sakit, namun abadi. “Kita akan abadi”.

    Bersamamu, aku berada di alam bawah sadar, melupakan kenyataan bahwa hati ini tak henti-hentinya meneteskan cairan kental berwarna merah hati.

    Getirnya rasa sakit yang seharusnya kurasa, tertutup oleh manisnya hari-hari yang kulewati dengan keberadaanmu.

    Lambat laun, aku lemah mulai kehilangan darah. Bagaimana tidak? Sayatanmu tak kunjung menutup. Ku hadap lantai yang kupijak. Darahku menggenang bagai danau terdangkal yang pernah ada, meninggi seperempat senti diatas hak tinggiku. Bukan, aku tak masalah alas kakiku kotor dibuatnya, namun jujur saja, aku terguncang bukan main, menoleh ke belakang dan melihat jejak-jejak kaki merah.

    Tak membutuhkan waktu lama bagiku untuk menyadari, bahwa itu semua adalah jejakku, bukan milikmu. Deretan jejak itu tersusun, mulai dari tempatku berdiri denganmu, sampai sejauh mata dapat memandang. Mungkin, jarak yang jauh itu bermula di awal kamu menemukanku, menemukanku dalam kegelapan dan keputusasaan dunia.

    Seketika aku terjatuh, kedua kakiku tak sanggup lagi menopang berat tubuhku yang tak seberapa ini.

    Aku mulai kehabisan darah, karenamu aku lupa betapa jauhnya jalan yang telah kita tempuh, dan karenamu aku lupa, bahwa luka yang kau sebut 'cinta' ini terus mengucurkan darah.

    Pandanganku sudah berubah menjadi dua. Aku mendongak. Dua kamu, yang seharusnya ada satu.

***
    Ku sadari, sudut-sudut dari pelipis mataku seakan-akan menghitam. Aku berusaha menggapai apapun yang ada di sekitarku. Tanganku sudah mengambang di tengah-tengah udara. Aku mencoba menggapai, meraih apapun yang dapat ku pegang. Percuma saja, kedua tangan mungil ini hanya mengambang, meremas-remas dinginnya udara saat itu.

    Teralihkan oleh segenap rasa bingung yang melandaku, aku kemudian menoleh ke arahmu, mencoba menggapai kedua tangan lembutmu yang selama ini membelai halus pipiku. Namun semua sia-sia, tanganmu tak kunjung kutemukan. Kau tak berdiri di sampingku lagi.

    Dengan pengelihatan yang semakin menghitam, aku dapat melihat sosokmu dari kejauhan. Aku tau itu kamu. Bahkan dari jauh sekalipun, aku mengenali rambut panjang yang kau sisir ke belakang itu. Pomade, minyak rambut, hair gel, apapun yang kau taruh di rambutmu itu, selalu berhasil memukauku. Dari jauh sekalipun, aku mengenali pria bertubuh kurus nan tinggi itu, yang gemar mengenakan vest denim ke mana pun ia berjalan.

    Kau bilang itu kado terakhir dari ayahmu, yang meninggal beberapa tahun silam. Pikiranku kacau. Yang singgah di benakku hanya lah kamu, bahkan dalam saat-saat seperti ini sekalipun.

    Aku tak yakin, apakah kau berjalan menjauh dariku, atau justru mendekat, setelah berjalan sekian lama mencari pertolongan untukku?

    Hingga akhirnya ku sadari, sosok itu mengecil, mengecil dan terus mengecil. Engkau pergi. Engkau meninggalkanku.

Aku mengumpulkan semua tenaga yang tersisa, menembakkannya bagai meriam yang siap menghancurkan tanah di medan perang. Namamu kusebut dalam sebuah teriakan. "PIERRE!". Saat itu aku harap engkau menghentikan langkah. Meski tubuh ini dibanjiri oleh rasa sakit yang tak henti-henti, aku sempat melukiskan senyum saat kau berhenti mendengar jeritanku. Aku ingat betul, engkau membalikkan badan, menatap langsung ke arahku.

    "Aku membutuhkanmu…"
    Aku lemah, kata-kataku menjadi lirih. Aku membutuhkanmu di sini. Aku membutuhkanmu menjadi penopangku, di saat aku tak mampu berdiri dan berjalan lagi.

    Namun kau hanya berdiri diam, tanpa ekspresi, mata dan alis tebalmu itu tak menggambarkan apa pun. Tiba-tiba engkau menghilang dalam dimensi hitam, tanpa jejak, tanpa suara. Bagai tertusuk seribu pedang sekaligus, aku tergeletak di jalan setapak, tempat di mana kau meninggalkanku, tempat di mana aku melihatmu untuk terakhir kalinya.

***m
Ke mana engkau akan pergi, mungkin lah aku tetap menunggumu di sini.
Aku hanya menitipkan kecupanku untukmu pada angin, sebab hanya ia yang dapat menjamah tempat-tempatmu melangkah, bukan aku.
Asal kamu tahu, cintaku bak lilin yang tak padam-padam. Meski api cintaku semakin lama kian meredup, ia akan terus berkobar hingga tak ada sumbu lagi untuk dibakar.
Kadang kala aku bertanya-tanya dalam hati, siapakah yang patut dipersalahkan? Apakah aku yang terlalu naif karena masih menunggumu setelah apa yang ku rasa seperti bertahun-tahun lamanya? Dan siapa pula kah yang lebih bodoh, aku yang memaafkanmu hanya atas dasar cinta yang tak pernah sirna, atau kau yang mencampakkanku dan meninggalkan jejak yang tak bernoda?
***

SEKILAS PRIYA

Priya dan si itik. Mereka memang hidup di dunia yang berbeda. Derajat yang berbeda, bahkan perasaan yang berbeda. Namun memiliki satu kesamaan sifat. Yaitu sifat untuk membenci. Membenci mereka yang telah dengan berani menyayat hatinya.

Suara itik yang menggemaskan itu sama sekali tak memecah keheningan Priya. Ia tetap terfokus pada lukisan cakar ayamnya di tanah. Dicorat-coret sana-sini. Bagaikan sebuah irama antara hentakan kaki itik yang semakin mengeras, serta gesekan di sana yang semakin menekan, memaksa.
    Ketika si itik bertanya apa yang sedang gerangan lukis, Priya tak menggubris. Dianggapnya pertanyaan itu hanya berupa angin lalu.
    “Itu lukisan?” tanya si itik.
    “Bukan,” jawab Priya ketus.
    “Lalu?”
    “Ini pesan.” Priya hanya menjawab pendek, dengan bibirnya yang mengerucut, dihiasi dengan dahi yang mengkerut.
    “Apa isinya?”
    “Untuk apa kau tahu?” kata Priya, “lagian kau bukan bagian dari kaum kita,” lanjutnya sambil memalingkan wajah pada si itik.
    Itik terdiam. Diam seribu bahasa. Tak berani melawan Priya yang merupakan cucu majikannya. Ia memang terkenal seperti itu pada saat-saat tertentu. Dapat berubah sewaktu-waktu.
    Si itikpun melihat ke sekeliling. Ditemuinya sebuah titik kejadian. Menatap lurus-lurus ke sana. Tatapannya kosong.
    Ia melihat seekor ayam jantan yang sedang mengejar si betina. Awalnya, si betina lebih sering menghindar ketika didatangi si jantan. Tapi karena beberapa patukan keras menyodok lubang kewanitaan si betina yang terdapat di punggungnya, ia mulai luluh. Berkokok, dan terus berkokok sambil mengepakkan sayapnya.
    Dan ironisnya, ayam jantan itu adalah induk si itik yang sedang berdiri tepat di samping lukisan Priya. Tapi mungkin tak terasa ironis sedikitpun bagi para itik yang pernah merasakannya.

***

    Priya pikir ayam itu sedang bertengkar. Tapi ternyata tidak.
    “Enak, ya. Kau tak perlu khawatir.”
    “Tentang apa?” tanya si itik kaget, mendengar suara Priya yang menyambar tiba-tiba.
    Priya hanya menjawab dengan menunjuk ke arah titik kejadian itu dengan dagunya.
    “Kau hanya perlu melihat kejadian itu, tanpa perlu merangkai kata ‘Itu bapakku’,” lanjut Priya. Si itikpun dibuat kebingungan. Apa maksudnya?
    “Lagipula, emakmu dapat melakukannya juga sewaktu-waktu dengan misalnya yang di sana,” Priya menunjuk ke arah ayam jantan lain yang sedang mematuki beras-beras yang berceceran.
    “Aku bahkan tak mengerti maksudmu,” jawab si itik sambil memiringkan kepalanya ke kiri.
    “Kau memang tak mengerti. Karena tak punya perasaan, juga akal budi.”
    Alasan mengapa Priya berkata seperti itu memang sepertinya sepele. Padahal tidak.
    Itu disebabkan oleh bapaknya, yang telah mewarisi benih-benih kebencian, untuk membenci orang yang mewariskan.
    Waktu itu hari mulai sore, hampir pukul empat. Tapi suasana bagaikan sudah malam saat ibunya mendengar kabar tersebut. Hatinya suram mirip langit malam.
    Bagaimana tidak? Sebulan sebelum resepsi dilaksanakan, ia malah mendengar kabar bahwa calonnya telah melakukan hal yang sama seperti ayah si itik. Tambah suram lagi jika pikiran tak dapat membatalkan resepi tersebut terlintas dalam benaknya. Karena sudah sebulan lagi waktunya. Bayangkan saja jika seorang gadis perawan harus menikahi lelaki yang sudah kehilangan keperjakaannya.
    Parahnya lagi, ia melakukan yang lebih dari sekedar nikah. Ia mengawininya. Sikap bapaknya seakan sama dengan yang ayah si itik lakukan, walaupun tentu bukan di pekarangan rumahnya.
    Dan dari sebuah perbuatan paling terhina itulah, Priya lahir. Seorang anak yang sungguh malang, yang harus menanggung warisan bapaknya seumur hidup.
    Walau tadinya ia sudah berminat memaafkan perbuatan ternoadai tersebut, tapi tak jadi dilakukannya setelah melihat telinga bapaknya berkucur darah. Emak lagi yang mengobatinya. Emak lagi, emak lagi. Dari situlah Priya mulai mengetahui kalau wanita ketiga yang dikawini bapaknya beberapa waktu lalu mulai tahu kalau hidup keluarga Priya lebih makmur daripada keluarganya, lalu memukuli kepala bapaknya dengan gesper hitam.
    Meski Priya sedikit menyukai sisi adil bapaknya dengan memberi lebih pada yang sah, ia tetap tak bisa melepeh mentah-mentah apa yang telah diwariskan dari awal kehidupannya. Kata balas dendam yang tadinya tak ada di kamusnya, sekarang ia tulis dengan bulpoin bewarna merah dengan pengertian, ‘sesuatu yang harus kau tunjukkan kelak dengan keberhasilanmu untuk mengimpasi warisan bapak’.

***

    “Lalu pernahkah kau bertanya pada ibumu mengapa masih melanjutkannya?”
    “Pernah. Kau?”
    “Tentu tidak. Karena indukku tak mungkin melanjutkan hidupnya hanya dengan satu ekor pejantan saja.”
    “Itu karena ibumu ayam. Emakku? Ia seekor angsa. Bacalah filosofi kehupan angsa kelak saat kau bisa membaca.”
    Ya, gadis berambut kriting ini memang pernah menanyakannya. Dengan segala keberanian, ia bertanya pada emaknya. Mengapa gerangan masih ingin menetap di rumah penuh dosa ini saat sudah mengetahui bahwa ialah yang kedua dari ketiganya.
    Emak yang sungguh penyabar inipun mejawab, kalau ia pernah bermimpi tentang pasangannya yang hanya mencintai dirinya, bukan yang lain. Walaupun yang dibiayai ada tiga atap keluarga.
    Jadi begitu mak, hanya soal cinta?
    Lalu ia pula yang bertanya empat mata pada bapaknya dengan pertanyaan yang pastinya berbeda. Karena bapaknya, hidup di tiga dunia.
    Jawabannya lumayan tak masuk akal. Karena ia banyak berhutang pada mereka yang dibanguninya sebuah keluarga. Kecuali emak, yang ternyata memang merupakan cinja sejatinya.
    Jadi begitu pak, istilahnya, kau hanya mengawini atas dasar balas budi? Apakah daya tangkapku kali ini benar?
    “Lalu? Itu semua ada hubungannya dengan lukisan ini?” tanya si itik sambil menginjakkan kakinya dua kali di dekat goresan-goresan tanah padat itu.
    “Ini bukan lukisan, tik. Ini tulisan.”
    “Apa bacanya?”
    “Aku bingung, kau mengerti bahasa manusia, tapi tak bisa membaca.”
    “Dulu aku bisa membaca. Tapi aku memutuskan untuk tak melanjutkannya karena pejantan itulah yang mengajariku.”
    Si itik mengarahkan pandangan pada titik kejadian yang masih berlanjut itu.

ERIKA MULYADI
XI-IBB / 3

Jangan Salahkan Dia

Oleh: Keny Elizabeth


    Perubahan dalam diriku, bukan karena orang lain tapi karena kamu yang tidak pernah bisa menghargai hubungan kita. Semuanya sia-sia, kamu selalu menyalahkanku dan tidak pernah menganggapku ada. Kamu tidak pernah melihat seberapa besar cintaku, seberapa besar aku menginginkanmu di hidupku. Kamu selalu merasa yang paling benar, tapi kamu salah. Kamu menghancurkan harapanku, membiarkanku jatuh dan tak berdaya. Cintamu hanyalah sebuah janji palsu dan selamanya adalah janji. Aku tidak bisa menahan rasa sakit yang kamu berikan. Aku tidak bisa menahan air mataku melihat kamu mempermainkan hidupku dan sekarang aku mencoba menghapus air mataku dan berdiri di atas rasa sakit yang kau tinggalkan padaku.
    Kehadiran orang-orang di sekitarku membuka mataku, menorehkan senyum di wajahku meskipun sangat sulit untuk tersenyum. Tetapi aku harus meninggalkan semua mimpi buruk ini. Itu bukan salahnya yang membuat kita terpisah. Itu bukan salahnya yang membuatku menyerah padamu. Dan itu bukan salahnya yang membawaku pergi menjauh darimu. Tidak pernah menghargai hubungan kita, tidak pernah menjaga ataupun berjuang. Cinta kita runtuh karena kamu. Kamu adalah yang mengakhiri hubungan kita, bukan orang lain. Jadi jangan salahkan dia karena membuat hubungan kita gagal. Kamu adalah yang selalu membuat masalah. Meskipun tidak ada dia, kamu dan aku memang harus berpisah.
    Aku harus berterimakasih padanya yang membuatku tersenyum dan mengembalikan warna dalam hidupku. Dia memberikan apa yang tidak pernah kau berikan padaku. Kamu harus tahu selama kita bersama, aku tidak pernah membohongimu dan yang perlu kamu tahu, aku tidak akan kembali lagi. Aku sudah berjanji pada diriku dan aku tidak akan membiarkan diriku disakiti lagi.
    Sebuah surat untuk hatiku yang terluka: “Aku tahu kamu punya luka yang sangat dalam dan aku tahu entah bagaimanapun caranya, aku tidak akan bisa menghapus kenangan yang telah terukir. Aku tahu kamu telah disakiti berulang kali. Aku tahu semuanya dan aku berjanji tidak akan membiarkan orang lain menyentuhmu sekarang. aku sudah tidak percaya lagi dengan yang namanya cinta. Kamu adalah hati milik seorang perempuan yang kuat, jadi kamu tidak bisa menyerah begitu saja. Aku tahu beberapa hal tidak berjalan sesuai yang kamu harapkan. Tapi percayalah padaku, kamu tidak perlu merasakan hal-hal seperti itu lagi. Kamu tidak perlu memohon untuk cinta. Kamu hanya perlu menunjukkan pada dunia bahwa kamu bisa melalui ini semua. Berhenti mengharapkan orang lain. Orang-orang yang meninggalkanmu, memang harus meninggalkan. Jika bukan hari ini, mungkin suatu saat. Jadi, lebih cepat lebih baik.”


Secercah Cahaya

Oleh: Satrya Paramanandana

Kuberjalan di tengah kegelapan. Sunyi senyap. Hening.
Demikianlah hidupku, begitu hampa dan hambar.
Tak kusangka, sebuah cahaya muncul dari tempat tak terduga.
Dia adalah seorang bidadari, yang kelak menerangi hari-hariku.

    “Woi Rama! Lu liburan ke mana aja?,” tanya Rendi, sahabat karibku. “As always, mengurung diri di rumah tercinta,” balasku dengan ogah-ogahan. Siapa yang tidak bosan, liburan 1 bulan hanya dihabiskan untuk bermain konsol game dan laptop, dikarenakan budget di kantong yang menipis . Dan siklus itu berlangsung selama 3 minggu liburan. “Aku dong, pergi ke Jakarta main di Mall of Indonesia,” pamer si Rendi. Evan, temanku yang lain, pamer akan skor dalam permainan Pump it Up. “Jangan sedih dulu, Ram. Entar kira ke Matos aja, ‘kan nanti pulang pagi,” hibur Rendi.
    Hari itu adalah hari pertamaku masuk sekolah di jenjang 2 SMP. Dengan sambutan sarkastik dari teman-teman yang semacam, “Tambah tinggi aja lu, Ram”,”Tumben agak kurusan”, dan lain sebagainya, membuat suasana hati semakin muram. Suara teriakan bersahut-sahutan di kelas dan bentakan guru wali kelas semakin merusak suasana hati. Tetapi, terjadi sebuah kejadian tak terlupakan di saat perubahan tempat duduk.
    “Baik anak-anak. Saatnya kita merolling posisi tempat duduk kalian,” yang disambut dengan teriakan, “Bu Guru payah”, “Gile lu, bu !”, serta kata-kata ‘kebun binatang’. “Kalian mau protes bagaimanapun, itu percuma. Ini sudah keputusan bulat,” tukas Bu Guru. “Tanpa perlu berlama-lama lagi, kamu yang situ, pindah ke bangku depan sebelah kiri saya ini !”, sembari menunjuk ke arahku. Dengan langkah lunglai, wajah lesu, dan sorakan dari teman-teman, kuberjalan ke arah yang ditunjuk. Namun, semua itu berubah ketika aku melihat ke bangku kiriku. Seorang bidadari telah menungguku.
    Perasaan apakah ini? Gembira, terharu, dan semangat yang muncul tiba-tiba, bercampur aduk menjadi satu. Tak pernah kualami perasaan kompleks ini sebelumnya. Seorang gadis berkacamata adalah penyebab perasaan ini. Orang lain bisa berkata, apa spesialnya? Apa yang membuat kamu terpikat? Dia itu orang yang biasa aja. Tidak, aku tidak melihat dari fisiknya. Entah kenapa rasa ini memicu jantung untuk berdegup lebih kencang serta tangan yang bergemetar. Ketika terdengar suara, “Hai, aku Marie. Nama kamu siapa?” dunia seakan-akan runtuh dan pintu surga terbuka lebar.
    “Perkenalkan, aku Rama. Dulu aku di kelas 7C,” sahutku sambil menundukkan kepala. “Hei, kamu punya Facebook, gak ?”,”Ada sih, Rama Tirta”,”Nanti kalau ada invitation dari Rei Vine-chan, tolong accept ya?”,”Oke, siap !” jawabku. Entah aku kesambet apa, kok tiba-tiba aku tanya, “Nomor hape kamu berapa?” Ia menulis di sepotong kertas dan memberikannya seraya berkata, “Check lewat WhatsApp aja. Pulsaku habis untuk paketan itu soalnya.” Hati bersorak-sorai dan berteriak, “Yeah, akhirnya berhasil!”
    Dewi rembulan dan pasukan bintangnya mulai menampakkan wujudnya. Angin malam  bertiup perlahan. Aku yang muncul dari kamar mandi sambil memakai baju, mulai mengotak-atik hape serta mengetik, “Hai, ini Rama. Tolong disave ya :v.” Ting-tong, bunyi notifikasi hapeku berbunyi. Tertulis di situ, “Oh, hai ! By the way, kamu udah kerja PR?”,”Sudah dong..” Tentu saja aku belum mengerjakannya. Tetapi, kalau sang bidadari tahu, tentu saja semuanya tidak akan berakhir dengan baik.
    Ada sebuah teori, cahaya tak bisa ditangkap. Tak bisa digenggam. Hanya bisa dilihat dan dinikmati kehangatannya. Benar, teori itu terbukti. Secercah cahaya yang fana, berwujud tetapi tak bisa digenggam. Cahaya itu adalah harapanku, api hidupku. Harapanku? Benar, tetapi harapan tak harus selalu terwujud, bukan?
   

Luke



Pertanyaannya membuat aku teringat akan kenangan itu. Semuanya lengkap. Ada anakku tercinta, ayahnya, dan aku. Hidup kami penuh dengan tawa dan canda. Luke. Namanya Luke, anak satu-satunya aku yang aku miliki. Mendapatkannya butuh pengorbanan yang cukup. Bertahun-tahun setelah pernikahanku dengan suamiku, kami berusahan untuk mendapatkan momongan. Setiap hari aku dan suamiku berdoa memohon kepada Sang Pencipta agar kami segera diberikan seorang anak, yang nantinya akan merawat kami berdua. Setelah enam tahun menanti, akhirnya kami mendapat seorang anak laki-laki yang sangat lucu. Hari-hari kami jalani dengan penuh sukacita.
Tiga tahun setelah Luke lahir, suamiku meninggalkan kami, dimana saat itu baru saja Luke belajar berbicara. “Kenapa ayah hanya diam bunda??” aku menarik nafas sambil menghapus air mata, lalu aku berkata kepadanya bahwa ayahnya sudah di Surga, kupeluknya dengan erat. Luke hanya tersenyum. Dia tumbuh menjadi seorang anak yang cerdas serta aktif di sekolahannya. Ketika itu umurnya baru tujuh tahun, aku selalu mengantar dan menemaninya latihan sepakbola di sekolahnya. Meskipun dia bukanlah anak yang handal dalam bidang ini, tapi aku sebagai orangtuanya akan selalu mendukungnya. Aku selalu duduk diantara orangtua yang lain, dan selalu tersenyum meskipun terkadang dia salah memasukan bola ke daerah lawan, dengan semangat yang penuh ia selalu mencoba untuk memasukan. Ada rasa kecewa dalam hati saat pertandingan dia hanya sebagai pemain cadangan, dan jarang sekali ia bermain.
Terkadang aku merasa sangat lelah, karena sebelum mengantar Luke latihan, aku harus membanting tulang terlebih dahulu untuk membayar biaya sekolah dan kebutuhan sehari-hari. Meskipun ada ibu yang menjaganya di rumah, tak mungkin kuserahkan semuanya kepadanya. Aku dan ibu selalu bergantian menjaga Luke. Semua letih lesu itu hilang ditelan bumi saat aku melihat senyum dan tawanya. Sampai akhirnya dia pergi sendiri, dan saat itu ada pertandingan. Dengan wajahnya yang polos, Luke memohon kepada pelatihnya agar kali ini dia diizinkan untuk mengikuti pertandingan ini, Karena sang pelatih kasihan melihat wajahnya akhirnya diberi kesempatan hanya saja dibabak pertama, dengan penuh semangat Luke menendang bola dan mencetak gol untuk timnya. Pelatihnya sangat  senang dan tepukau melihat perkembangan Luke. Saat istirahat pelatihnya memujinya “Wah… hebat sekali kamu, Luke. Pasti orangtuamu bangga padamu.” Seketika itu mata Luke berkaca-kaca. Pelatihnya kebingungan. “Kamu kenapa?? Bukan kah ini yang kamu inginkan? Lalu kenapa kamu menangis?? Mana mamamu, bisanya beliau duduk diantara orangtua yang lain, pasti ia bangga melihat kamu Luke.” Mata yang mencari-cari mamanya Luke. Sambil menghapus air mata Luke menjawab, bahwa selama kedua orang tuanya hidup Luke belum bisa membahagiakan mereka, tapi Luke percaya bahwa kedua orang tuanya di Surga akan bangga melihat dia dapat mencetak gol. Mamanya baru saja meninggal seminggu yang lalu, karena kecelakaan yang menimpanya, yang mengakibatkan beliau meninggal seketika.
Iya anakku. Aku sudah bertemu dengan ayahmu. Kami bangga melihat engkau tumbuh menjadi anak yang pintar, kami senantiasa mendoakanmu di sini. Aku masih ingat saat pemakaman itu, Luke sempat bertanya, apakah aku mengikuti ayahnya. Dan air mata pun mengalir dipipiku saat peti akan ditutup. Aku senang melihat Luke senang.
Luke anakku, aku senang melihat kau senang, tumbuhlah kau menjadi anak yang baik. Doaku besertamu. –Bunda-
   

Hantu dan Ksatria


Pada malam itu seperti biasa aku pergi menuju bar untuk minum rum. Ternyata datang pada malam itu suasananya sangat berbeda, biasanya celoteh ramai sampai mengalahkan suara suasana berperang, bahkan ada yang mabuk kepayang sampai menabrak kursi atau meja. Tetapi berbeda sekali malam ini, orang-orang diam seribu bahasa sambil meneguk minuman dengan perasaan cemas seperti mau mati. Aku kemudian memesan minuman dan mengambil kursi, tetapi duduk pun merasa tidak nyaman karena memakai sarung perang dan memakai baju besi.
Kemudian aku meminum rum dan bertanya kepada pelayan bar, ”Kenapa hari ini orang-orang tampak berbeda tak seperti biasanya?”. Jawab pelayan bar, ”Mereka sedang ketakutan”. ”Takut pada apa?”, tanyaku lagi. ”Mereka takut pada wanita psikopat yang berkeliaran belakangan ini”, jawab pelayan itu. Mendengar jawaban itu, aku langsung berpikir, “Ah, yang pertama putri yang gagal aku dekati, sekarang wanita psikopat? Ahh..sial sekali hidupku ini”. Aku pun memulai mencari informasi tentang wanita psikopat ini dengan bertanya pada pelayan bar itu lagi. ”Memangnya apa yang dia lakukan sampai membuat orang-orang ketakutan?”. ”Dia membunuh laki-laki untuk dimakan organnya”, jawab pelayan itu. ”Bagaimana ciri-cirinya?”, tanyaku dengan semakin penasaran. ”Dia cantik, memikat, dan berjalan setiap malam. Ah… jika kau melihatnya, pasti langsung terpikat”, jawabnya lagi. ”Ah, aku pasti tidak akan merasa terpikat karena aku sedang sakit hati gara-gara putri yang gagal kudapatkan”, pikirku dalam hati sambil menghabiskan minuman.
Setelah selesai minum aku pergi keluar untuk berkeliling, dan suasana diluar bar pun sungguh mencekam. Sepi, sunyi tidak ada orang dan awan mendung pun tampak jelas dari pandangan. Dengan perasaan deg-degan aku mulai berjalan sambil memegang sarung pedang karena terbayang jawaban pelayan bar tadi. Lalu, aku melihat ada seorang wanita berjalan dan aku mencoba mengikutinya, setelah itu aku kehilangan jejaknya. Tiba-tiba dia menyerangku dengan pisaunya dan akhirnya aku menyerangnya dengan pedangku.”Klang!”. Pedangku mengenai tangannya dan akhirnya dia tersungkur kesakitan. ”Hentikan, sebenarnya aku tidak ingin membunuhmu”, kata wanita itu sambil memegang tangannya yang bercucuran darah. ”Baiklah, apa maumu?”, tanyaku ragu. ”Sebenarnya aku tertarik padamu”, jawabnya. ”Hah, aku tidak akan tertipu dengan tipu muslihatmu!”, geramku padanya. ”Tidak, ini serius, aku mengatakan yang sejujurnya”, jawabnya.
Mendengar jawabannya dan melihat matanya yang mulai berkaca-kaca,aku mulai berpikir kalau dia bersungguh-sungguh. Kemudian aku mengulurkan tangan ku untuk menariknya berdiri, dan memborgol tangannya sebagai jaminan agar dia tidak melakukan hal yang berbahaya. Melihat wajahnya memang membuatku terpikat, pikiranku berkata, jangan masuk ke dalam perangkap harimau. ”Jika kau mendegar gosip tentang aku yang memakan laki-laki atau melakukan tindakan kejam, jangan percaya omong kosong itu”, katanya padaku. ”Hah? Benarkah itu?”, tanyaku dengan penuh penasaran. ”Ya, benar ada orang yang ingin menyingkirkanku”, jawabnya dengan rintihan.
Tiba-tiba aku melihat seseorang berlari dengan memakai baju yang sama persis seperti wanita yang kubawa sekarang, dan ia membawa karung. Ku ikuti dia dengan mengikuti jejak darah yang menetes di jalan. Jejak darah itu berhenti di sebuah rumah yang cukup tua dan angker. Kemudian aku melepas borgol wanita itu dan memberikan pisaunya lagi untuk berjaga-jaga. Aku dan wanita itu menuju ke lantai atas dengan menaiki tangga yang melingkar, ditambah dengan suasana yang membuat bulu kuduk merinding. Setelah menaiki ratusan anak tangga, akhirnya sampai pada sebuah ruangan yang bercahaya. Kutarik pedangku dari sarungnya dan mendobrak pintu secara langsung.

Pintu pun terbuka dan aku melihat pemandangan yang sangat mengerikan. Darah membanjiri ruangan itu, dan aku dapat melihat potongan tubuh berserakan dimana mana. Aku pun juga melihat orang itu dan ternyata benar dikatakan wanita itu, bahwa dia tidak bersalah. Dengan berani aku langsung mengayunkan pedang ku kepadanya, namun seranganku dapat ditangkis olehnya. Ternyata dia cukup lihai juga, akhirnya terjadilah pertarungan yang sengit dan aku berhasil menusuknya. Seketika itu juga dia terkapar dan tewas. Penduduk pun datang ke tempat itu dan melihat bukti yang sangat mutlak bahwa yang membunuh para pria itu bukan wanita yang selama ini mereka tuduh.
Lalu, wanita itu memelukku sambil menangis dan mengucapkan, ”Terima kasih karena sudah melindungiku”, dengan tangisan bahagia. Sambil mengelus-elus punggungnya, aku berkata, ”Tidak apa – apa, sudah selesai sekarang”.