Pada malam itu seperti biasa aku pergi menuju bar untuk minum rum. Ternyata datang pada malam itu suasananya sangat berbeda, biasanya celoteh ramai sampai mengalahkan suara suasana berperang, bahkan ada yang mabuk kepayang sampai menabrak kursi atau meja. Tetapi berbeda sekali malam ini, orang-orang diam seribu bahasa sambil meneguk minuman dengan perasaan cemas seperti mau mati. Aku kemudian memesan minuman dan mengambil kursi, tetapi duduk pun merasa tidak nyaman karena memakai sarung perang dan memakai baju besi.
Kemudian aku meminum rum dan bertanya kepada pelayan bar, ”Kenapa hari ini orang-orang tampak berbeda tak seperti biasanya?”. Jawab pelayan bar, ”Mereka sedang ketakutan”. ”Takut pada apa?”, tanyaku lagi. ”Mereka takut pada wanita psikopat yang berkeliaran belakangan ini”, jawab pelayan itu. Mendengar jawaban itu, aku langsung berpikir, “Ah, yang pertama putri yang gagal aku dekati, sekarang wanita psikopat? Ahh..sial sekali hidupku ini”. Aku pun memulai mencari informasi tentang wanita psikopat ini dengan bertanya pada pelayan bar itu lagi. ”Memangnya apa yang dia lakukan sampai membuat orang-orang ketakutan?”. ”Dia membunuh laki-laki untuk dimakan organnya”, jawab pelayan itu. ”Bagaimana ciri-cirinya?”, tanyaku dengan semakin penasaran. ”Dia cantik, memikat, dan berjalan setiap malam. Ah… jika kau melihatnya, pasti langsung terpikat”, jawabnya lagi. ”Ah, aku pasti tidak akan merasa terpikat karena aku sedang sakit hati gara-gara putri yang gagal kudapatkan”, pikirku dalam hati sambil menghabiskan minuman.
Setelah selesai minum aku pergi keluar untuk berkeliling, dan suasana diluar bar pun sungguh mencekam. Sepi, sunyi tidak ada orang dan awan mendung pun tampak jelas dari pandangan. Dengan perasaan deg-degan aku mulai berjalan sambil memegang sarung pedang karena terbayang jawaban pelayan bar tadi. Lalu, aku melihat ada seorang wanita berjalan dan aku mencoba mengikutinya, setelah itu aku kehilangan jejaknya. Tiba-tiba dia menyerangku dengan pisaunya dan akhirnya aku menyerangnya dengan pedangku.”Klang!”. Pedangku mengenai tangannya dan akhirnya dia tersungkur kesakitan. ”Hentikan, sebenarnya aku tidak ingin membunuhmu”, kata wanita itu sambil memegang tangannya yang bercucuran darah. ”Baiklah, apa maumu?”, tanyaku ragu. ”Sebenarnya aku tertarik padamu”, jawabnya. ”Hah, aku tidak akan tertipu dengan tipu muslihatmu!”, geramku padanya. ”Tidak, ini serius, aku mengatakan yang sejujurnya”, jawabnya.
Mendengar jawabannya dan melihat matanya yang mulai berkaca-kaca,aku mulai berpikir kalau dia bersungguh-sungguh. Kemudian aku mengulurkan tangan ku untuk menariknya berdiri, dan memborgol tangannya sebagai jaminan agar dia tidak melakukan hal yang berbahaya. Melihat wajahnya memang membuatku terpikat, pikiranku berkata, jangan masuk ke dalam perangkap harimau. ”Jika kau mendegar gosip tentang aku yang memakan laki-laki atau melakukan tindakan kejam, jangan percaya omong kosong itu”, katanya padaku. ”Hah? Benarkah itu?”, tanyaku dengan penuh penasaran. ”Ya, benar ada orang yang ingin menyingkirkanku”, jawabnya dengan rintihan.
Tiba-tiba aku melihat seseorang berlari dengan memakai baju yang sama persis seperti wanita yang kubawa sekarang, dan ia membawa karung. Ku ikuti dia dengan mengikuti jejak darah yang menetes di jalan. Jejak darah itu berhenti di sebuah rumah yang cukup tua dan angker. Kemudian aku melepas borgol wanita itu dan memberikan pisaunya lagi untuk berjaga-jaga. Aku dan wanita itu menuju ke lantai atas dengan menaiki tangga yang melingkar, ditambah dengan suasana yang membuat bulu kuduk merinding. Setelah menaiki ratusan anak tangga, akhirnya sampai pada sebuah ruangan yang bercahaya. Kutarik pedangku dari sarungnya dan mendobrak pintu secara langsung.
Pintu pun terbuka dan aku melihat pemandangan yang sangat mengerikan. Darah membanjiri ruangan itu, dan aku dapat melihat potongan tubuh berserakan dimana mana. Aku pun juga melihat orang itu dan ternyata benar dikatakan wanita itu, bahwa dia tidak bersalah. Dengan berani aku langsung mengayunkan pedang ku kepadanya, namun seranganku dapat ditangkis olehnya. Ternyata dia cukup lihai juga, akhirnya terjadilah pertarungan yang sengit dan aku berhasil menusuknya. Seketika itu juga dia terkapar dan tewas. Penduduk pun datang ke tempat itu dan melihat bukti yang sangat mutlak bahwa yang membunuh para pria itu bukan wanita yang selama ini mereka tuduh.
Lalu, wanita itu memelukku sambil menangis dan mengucapkan, ”Terima kasih karena sudah melindungiku”, dengan tangisan bahagia. Sambil mengelus-elus punggungnya, aku berkata, ”Tidak apa – apa, sudah selesai sekarang”.
No comments:
Post a Comment