❒ Nadhia Faith
Aku mendekat, engkau menjauh. Itu yang kau sebut cinta?
Di saat kau mempermasalahkan kekuranganku. Itu yang kau sebut cinta?
Engkau pernah berjanji, mencintaiku sampai akhir hayat nanti.
Kau penuhi rongga dadaku dengan janjimu yang pilu.
Janji-janji manis yang kau ucap, untuk menua denganku, untuk mencintaiku tanpa batas.
Sesak kau buat.
Meninggalkanku dalam keheningan. Itu yang kau sebut cinta?
Janji mulia yang keluar dari bibir indahmu, tenggelam dalam samudra ketidakpastian.
Inilah kisah cintaku yang pernah bergantung pada sebuah kata yang semu. Kata yang kau corengkan pada hatiku.
Cintamu begitu tajam, bagai ujung keris terlancip di negeri Jawa. Dan hatiku lah kayumu, tempat kau mengukir nama kita berdua dalam suatu bentuk hati dan anak panah, simbol kekuatan cinta kita. Sejak itu pun, hatiku tak pernah berhenti berdarah. Awalnya aku merintih kesakitan. Awalnya, aku mempertanyakan cintamu. Mengapa kau lakukan itu bila kau cinta? Menggoreskan sayatan tajam pada hati seorang wanita tanpa daya sepertiku. Kau tak menjawab, melainkan kau bungkam semua pertanyaanku dan kau segel bibir ini dengan sebuah kecupan. Dalam sepersekian detik aku luluh, tak perlu banyak bicara, aku mempercayaimu seketika. Kau bilang seperti itulah cinta. Bak tatto, sakit, namun abadi. “Kita akan abadi”.
Bersamamu, aku berada di alam bawah sadar, melupakan kenyataan bahwa hati ini tak henti-hentinya meneteskan cairan kental berwarna merah hati.
Getirnya rasa sakit yang seharusnya kurasa, tertutup oleh manisnya hari-hari yang kulewati dengan keberadaanmu.
Lambat laun, aku lemah mulai kehilangan darah. Bagaimana tidak? Sayatanmu tak kunjung menutup. Ku hadap lantai yang kupijak. Darahku menggenang bagai danau terdangkal yang pernah ada, meninggi seperempat senti diatas hak tinggiku. Bukan, aku tak masalah alas kakiku kotor dibuatnya, namun jujur saja, aku terguncang bukan main, menoleh ke belakang dan melihat jejak-jejak kaki merah.
Tak membutuhkan waktu lama bagiku untuk menyadari, bahwa itu semua adalah jejakku, bukan milikmu. Deretan jejak itu tersusun, mulai dari tempatku berdiri denganmu, sampai sejauh mata dapat memandang. Mungkin, jarak yang jauh itu bermula di awal kamu menemukanku, menemukanku dalam kegelapan dan keputusasaan dunia.
Seketika aku terjatuh, kedua kakiku tak sanggup lagi menopang berat tubuhku yang tak seberapa ini.
Aku mulai kehabisan darah, karenamu aku lupa betapa jauhnya jalan yang telah kita tempuh, dan karenamu aku lupa, bahwa luka yang kau sebut 'cinta' ini terus mengucurkan darah.
Pandanganku sudah berubah menjadi dua. Aku mendongak. Dua kamu, yang seharusnya ada satu.
***
Ku sadari, sudut-sudut dari pelipis mataku seakan-akan menghitam. Aku berusaha menggapai apapun yang ada di sekitarku. Tanganku sudah mengambang di tengah-tengah udara. Aku mencoba menggapai, meraih apapun yang dapat ku pegang. Percuma saja, kedua tangan mungil ini hanya mengambang, meremas-remas dinginnya udara saat itu.
Teralihkan oleh segenap rasa bingung yang melandaku, aku kemudian menoleh ke arahmu, mencoba menggapai kedua tangan lembutmu yang selama ini membelai halus pipiku. Namun semua sia-sia, tanganmu tak kunjung kutemukan. Kau tak berdiri di sampingku lagi.
Dengan pengelihatan yang semakin menghitam, aku dapat melihat sosokmu dari kejauhan. Aku tau itu kamu. Bahkan dari jauh sekalipun, aku mengenali rambut panjang yang kau sisir ke belakang itu. Pomade, minyak rambut, hair gel, apapun yang kau taruh di rambutmu itu, selalu berhasil memukauku. Dari jauh sekalipun, aku mengenali pria bertubuh kurus nan tinggi itu, yang gemar mengenakan vest denim ke mana pun ia berjalan.
Kau bilang itu kado terakhir dari ayahmu, yang meninggal beberapa tahun silam. Pikiranku kacau. Yang singgah di benakku hanya lah kamu, bahkan dalam saat-saat seperti ini sekalipun.
Aku tak yakin, apakah kau berjalan menjauh dariku, atau justru mendekat, setelah berjalan sekian lama mencari pertolongan untukku?
Hingga akhirnya ku sadari, sosok itu mengecil, mengecil dan terus mengecil. Engkau pergi. Engkau meninggalkanku.
Aku mengumpulkan semua tenaga yang tersisa, menembakkannya bagai meriam yang siap menghancurkan tanah di medan perang. Namamu kusebut dalam sebuah teriakan. "PIERRE!". Saat itu aku harap engkau menghentikan langkah. Meski tubuh ini dibanjiri oleh rasa sakit yang tak henti-henti, aku sempat melukiskan senyum saat kau berhenti mendengar jeritanku. Aku ingat betul, engkau membalikkan badan, menatap langsung ke arahku.
"Aku membutuhkanmu…"
Aku lemah, kata-kataku menjadi lirih. Aku membutuhkanmu di sini. Aku membutuhkanmu menjadi penopangku, di saat aku tak mampu berdiri dan berjalan lagi.
Namun kau hanya berdiri diam, tanpa ekspresi, mata dan alis tebalmu itu tak menggambarkan apa pun. Tiba-tiba engkau menghilang dalam dimensi hitam, tanpa jejak, tanpa suara. Bagai tertusuk seribu pedang sekaligus, aku tergeletak di jalan setapak, tempat di mana kau meninggalkanku, tempat di mana aku melihatmu untuk terakhir kalinya.
***m
Ke mana engkau akan pergi, mungkin lah aku tetap menunggumu di sini.
Aku hanya menitipkan kecupanku untukmu pada angin, sebab hanya ia yang dapat menjamah tempat-tempatmu melangkah, bukan aku.
Asal kamu tahu, cintaku bak lilin yang tak padam-padam. Meski api cintaku semakin lama kian meredup, ia akan terus berkobar hingga tak ada sumbu lagi untuk dibakar.
Kadang kala aku bertanya-tanya dalam hati, siapakah yang patut dipersalahkan? Apakah aku yang terlalu naif karena masih menunggumu setelah apa yang ku rasa seperti bertahun-tahun lamanya? Dan siapa pula kah yang lebih bodoh, aku yang memaafkanmu hanya atas dasar cinta yang tak pernah sirna, atau kau yang mencampakkanku dan meninggalkan jejak yang tak bernoda?
***
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment