❒ Nadhia Faith
Aku mendekat, engkau menjauh. Itu yang kau sebut cinta?
Di saat kau mempermasalahkan kekuranganku. Itu yang kau sebut cinta?
Engkau pernah berjanji, mencintaiku sampai akhir hayat nanti.
Kau penuhi rongga dadaku dengan janjimu yang pilu.
Janji-janji manis yang kau ucap, untuk menua denganku, untuk mencintaiku tanpa batas.
Sesak kau buat.
Meninggalkanku dalam keheningan. Itu yang kau sebut cinta?
Janji mulia yang keluar dari bibir indahmu, tenggelam dalam samudra ketidakpastian.
Inilah kisah cintaku yang pernah bergantung pada sebuah kata yang semu. Kata yang kau corengkan pada hatiku.
Cintamu begitu tajam, bagai ujung keris terlancip di negeri Jawa. Dan hatiku lah kayumu, tempat kau mengukir nama kita berdua dalam suatu bentuk hati dan anak panah, simbol kekuatan cinta kita. Sejak itu pun, hatiku tak pernah berhenti berdarah. Awalnya aku merintih kesakitan. Awalnya, aku mempertanyakan cintamu. Mengapa kau lakukan itu bila kau cinta? Menggoreskan sayatan tajam pada hati seorang wanita tanpa daya sepertiku. Kau tak menjawab, melainkan kau bungkam semua pertanyaanku dan kau segel bibir ini dengan sebuah kecupan. Dalam sepersekian detik aku luluh, tak perlu banyak bicara, aku mempercayaimu seketika. Kau bilang seperti itulah cinta. Bak tatto, sakit, namun abadi. “Kita akan abadi”.
Bersamamu, aku berada di alam bawah sadar, melupakan kenyataan bahwa hati ini tak henti-hentinya meneteskan cairan kental berwarna merah hati.
Getirnya rasa sakit yang seharusnya kurasa, tertutup oleh manisnya hari-hari yang kulewati dengan keberadaanmu.
Lambat laun, aku lemah mulai kehilangan darah. Bagaimana tidak? Sayatanmu tak kunjung menutup. Ku hadap lantai yang kupijak. Darahku menggenang bagai danau terdangkal yang pernah ada, meninggi seperempat senti diatas hak tinggiku. Bukan, aku tak masalah alas kakiku kotor dibuatnya, namun jujur saja, aku terguncang bukan main, menoleh ke belakang dan melihat jejak-jejak kaki merah.
Tak membutuhkan waktu lama bagiku untuk menyadari, bahwa itu semua adalah jejakku, bukan milikmu. Deretan jejak itu tersusun, mulai dari tempatku berdiri denganmu, sampai sejauh mata dapat memandang. Mungkin, jarak yang jauh itu bermula di awal kamu menemukanku, menemukanku dalam kegelapan dan keputusasaan dunia.
Seketika aku terjatuh, kedua kakiku tak sanggup lagi menopang berat tubuhku yang tak seberapa ini.
Aku mulai kehabisan darah, karenamu aku lupa betapa jauhnya jalan yang telah kita tempuh, dan karenamu aku lupa, bahwa luka yang kau sebut 'cinta' ini terus mengucurkan darah.
Pandanganku sudah berubah menjadi dua. Aku mendongak. Dua kamu, yang seharusnya ada satu.
***
Ku sadari, sudut-sudut dari pelipis mataku seakan-akan menghitam. Aku berusaha menggapai apapun yang ada di sekitarku. Tanganku sudah mengambang di tengah-tengah udara. Aku mencoba menggapai, meraih apapun yang dapat ku pegang. Percuma saja, kedua tangan mungil ini hanya mengambang, meremas-remas dinginnya udara saat itu.
Teralihkan oleh segenap rasa bingung yang melandaku, aku kemudian menoleh ke arahmu, mencoba menggapai kedua tangan lembutmu yang selama ini membelai halus pipiku. Namun semua sia-sia, tanganmu tak kunjung kutemukan. Kau tak berdiri di sampingku lagi.
Dengan pengelihatan yang semakin menghitam, aku dapat melihat sosokmu dari kejauhan. Aku tau itu kamu. Bahkan dari jauh sekalipun, aku mengenali rambut panjang yang kau sisir ke belakang itu. Pomade, minyak rambut, hair gel, apapun yang kau taruh di rambutmu itu, selalu berhasil memukauku. Dari jauh sekalipun, aku mengenali pria bertubuh kurus nan tinggi itu, yang gemar mengenakan vest denim ke mana pun ia berjalan.
Kau bilang itu kado terakhir dari ayahmu, yang meninggal beberapa tahun silam. Pikiranku kacau. Yang singgah di benakku hanya lah kamu, bahkan dalam saat-saat seperti ini sekalipun.
Aku tak yakin, apakah kau berjalan menjauh dariku, atau justru mendekat, setelah berjalan sekian lama mencari pertolongan untukku?
Hingga akhirnya ku sadari, sosok itu mengecil, mengecil dan terus mengecil. Engkau pergi. Engkau meninggalkanku.
Aku mengumpulkan semua tenaga yang tersisa, menembakkannya bagai meriam yang siap menghancurkan tanah di medan perang. Namamu kusebut dalam sebuah teriakan. "PIERRE!". Saat itu aku harap engkau menghentikan langkah. Meski tubuh ini dibanjiri oleh rasa sakit yang tak henti-henti, aku sempat melukiskan senyum saat kau berhenti mendengar jeritanku. Aku ingat betul, engkau membalikkan badan, menatap langsung ke arahku.
"Aku membutuhkanmu…"
Aku lemah, kata-kataku menjadi lirih. Aku membutuhkanmu di sini. Aku membutuhkanmu menjadi penopangku, di saat aku tak mampu berdiri dan berjalan lagi.
Namun kau hanya berdiri diam, tanpa ekspresi, mata dan alis tebalmu itu tak menggambarkan apa pun. Tiba-tiba engkau menghilang dalam dimensi hitam, tanpa jejak, tanpa suara. Bagai tertusuk seribu pedang sekaligus, aku tergeletak di jalan setapak, tempat di mana kau meninggalkanku, tempat di mana aku melihatmu untuk terakhir kalinya.
***m
Ke mana engkau akan pergi, mungkin lah aku tetap menunggumu di sini.
Aku hanya menitipkan kecupanku untukmu pada angin, sebab hanya ia yang dapat menjamah tempat-tempatmu melangkah, bukan aku.
Asal kamu tahu, cintaku bak lilin yang tak padam-padam. Meski api cintaku semakin lama kian meredup, ia akan terus berkobar hingga tak ada sumbu lagi untuk dibakar.
Kadang kala aku bertanya-tanya dalam hati, siapakah yang patut dipersalahkan? Apakah aku yang terlalu naif karena masih menunggumu setelah apa yang ku rasa seperti bertahun-tahun lamanya? Dan siapa pula kah yang lebih bodoh, aku yang memaafkanmu hanya atas dasar cinta yang tak pernah sirna, atau kau yang mencampakkanku dan meninggalkan jejak yang tak bernoda?
***
Tuesday, 6 October 2015
SEKILAS PRIYA
Priya dan si itik. Mereka memang hidup di dunia yang berbeda. Derajat yang berbeda, bahkan perasaan yang berbeda. Namun memiliki satu kesamaan sifat. Yaitu sifat untuk membenci. Membenci mereka yang telah dengan berani menyayat hatinya.
Suara itik yang menggemaskan itu sama sekali tak memecah keheningan Priya. Ia tetap terfokus pada lukisan cakar ayamnya di tanah. Dicorat-coret sana-sini. Bagaikan sebuah irama antara hentakan kaki itik yang semakin mengeras, serta gesekan di sana yang semakin menekan, memaksa.
Ketika si itik bertanya apa yang sedang gerangan lukis, Priya tak menggubris. Dianggapnya pertanyaan itu hanya berupa angin lalu.
“Itu lukisan?” tanya si itik.
“Bukan,” jawab Priya ketus.
“Lalu?”
“Ini pesan.” Priya hanya menjawab pendek, dengan bibirnya yang mengerucut, dihiasi dengan dahi yang mengkerut.
“Apa isinya?”
“Untuk apa kau tahu?” kata Priya, “lagian kau bukan bagian dari kaum kita,” lanjutnya sambil memalingkan wajah pada si itik.
Itik terdiam. Diam seribu bahasa. Tak berani melawan Priya yang merupakan cucu majikannya. Ia memang terkenal seperti itu pada saat-saat tertentu. Dapat berubah sewaktu-waktu.
Si itikpun melihat ke sekeliling. Ditemuinya sebuah titik kejadian. Menatap lurus-lurus ke sana. Tatapannya kosong.
Ia melihat seekor ayam jantan yang sedang mengejar si betina. Awalnya, si betina lebih sering menghindar ketika didatangi si jantan. Tapi karena beberapa patukan keras menyodok lubang kewanitaan si betina yang terdapat di punggungnya, ia mulai luluh. Berkokok, dan terus berkokok sambil mengepakkan sayapnya.
Dan ironisnya, ayam jantan itu adalah induk si itik yang sedang berdiri tepat di samping lukisan Priya. Tapi mungkin tak terasa ironis sedikitpun bagi para itik yang pernah merasakannya.
***
Priya pikir ayam itu sedang bertengkar. Tapi ternyata tidak.
“Enak, ya. Kau tak perlu khawatir.”
“Tentang apa?” tanya si itik kaget, mendengar suara Priya yang menyambar tiba-tiba.
Priya hanya menjawab dengan menunjuk ke arah titik kejadian itu dengan dagunya.
“Kau hanya perlu melihat kejadian itu, tanpa perlu merangkai kata ‘Itu bapakku’,” lanjut Priya. Si itikpun dibuat kebingungan. Apa maksudnya?
“Lagipula, emakmu dapat melakukannya juga sewaktu-waktu dengan misalnya yang di sana,” Priya menunjuk ke arah ayam jantan lain yang sedang mematuki beras-beras yang berceceran.
“Aku bahkan tak mengerti maksudmu,” jawab si itik sambil memiringkan kepalanya ke kiri.
“Kau memang tak mengerti. Karena tak punya perasaan, juga akal budi.”
Alasan mengapa Priya berkata seperti itu memang sepertinya sepele. Padahal tidak.
Itu disebabkan oleh bapaknya, yang telah mewarisi benih-benih kebencian, untuk membenci orang yang mewariskan.
Waktu itu hari mulai sore, hampir pukul empat. Tapi suasana bagaikan sudah malam saat ibunya mendengar kabar tersebut. Hatinya suram mirip langit malam.
Bagaimana tidak? Sebulan sebelum resepsi dilaksanakan, ia malah mendengar kabar bahwa calonnya telah melakukan hal yang sama seperti ayah si itik. Tambah suram lagi jika pikiran tak dapat membatalkan resepi tersebut terlintas dalam benaknya. Karena sudah sebulan lagi waktunya. Bayangkan saja jika seorang gadis perawan harus menikahi lelaki yang sudah kehilangan keperjakaannya.
Parahnya lagi, ia melakukan yang lebih dari sekedar nikah. Ia mengawininya. Sikap bapaknya seakan sama dengan yang ayah si itik lakukan, walaupun tentu bukan di pekarangan rumahnya.
Dan dari sebuah perbuatan paling terhina itulah, Priya lahir. Seorang anak yang sungguh malang, yang harus menanggung warisan bapaknya seumur hidup.
Walau tadinya ia sudah berminat memaafkan perbuatan ternoadai tersebut, tapi tak jadi dilakukannya setelah melihat telinga bapaknya berkucur darah. Emak lagi yang mengobatinya. Emak lagi, emak lagi. Dari situlah Priya mulai mengetahui kalau wanita ketiga yang dikawini bapaknya beberapa waktu lalu mulai tahu kalau hidup keluarga Priya lebih makmur daripada keluarganya, lalu memukuli kepala bapaknya dengan gesper hitam.
Meski Priya sedikit menyukai sisi adil bapaknya dengan memberi lebih pada yang sah, ia tetap tak bisa melepeh mentah-mentah apa yang telah diwariskan dari awal kehidupannya. Kata balas dendam yang tadinya tak ada di kamusnya, sekarang ia tulis dengan bulpoin bewarna merah dengan pengertian, ‘sesuatu yang harus kau tunjukkan kelak dengan keberhasilanmu untuk mengimpasi warisan bapak’.
***
“Lalu pernahkah kau bertanya pada ibumu mengapa masih melanjutkannya?”
“Pernah. Kau?”
“Tentu tidak. Karena indukku tak mungkin melanjutkan hidupnya hanya dengan satu ekor pejantan saja.”
“Itu karena ibumu ayam. Emakku? Ia seekor angsa. Bacalah filosofi kehupan angsa kelak saat kau bisa membaca.”
Ya, gadis berambut kriting ini memang pernah menanyakannya. Dengan segala keberanian, ia bertanya pada emaknya. Mengapa gerangan masih ingin menetap di rumah penuh dosa ini saat sudah mengetahui bahwa ialah yang kedua dari ketiganya.
Emak yang sungguh penyabar inipun mejawab, kalau ia pernah bermimpi tentang pasangannya yang hanya mencintai dirinya, bukan yang lain. Walaupun yang dibiayai ada tiga atap keluarga.
Jadi begitu mak, hanya soal cinta?
Lalu ia pula yang bertanya empat mata pada bapaknya dengan pertanyaan yang pastinya berbeda. Karena bapaknya, hidup di tiga dunia.
Jawabannya lumayan tak masuk akal. Karena ia banyak berhutang pada mereka yang dibanguninya sebuah keluarga. Kecuali emak, yang ternyata memang merupakan cinja sejatinya.
Jadi begitu pak, istilahnya, kau hanya mengawini atas dasar balas budi? Apakah daya tangkapku kali ini benar?
“Lalu? Itu semua ada hubungannya dengan lukisan ini?” tanya si itik sambil menginjakkan kakinya dua kali di dekat goresan-goresan tanah padat itu.
“Ini bukan lukisan, tik. Ini tulisan.”
“Apa bacanya?”
“Aku bingung, kau mengerti bahasa manusia, tapi tak bisa membaca.”
“Dulu aku bisa membaca. Tapi aku memutuskan untuk tak melanjutkannya karena pejantan itulah yang mengajariku.”
Si itik mengarahkan pandangan pada titik kejadian yang masih berlanjut itu.
ERIKA MULYADI
XI-IBB / 3
Suara itik yang menggemaskan itu sama sekali tak memecah keheningan Priya. Ia tetap terfokus pada lukisan cakar ayamnya di tanah. Dicorat-coret sana-sini. Bagaikan sebuah irama antara hentakan kaki itik yang semakin mengeras, serta gesekan di sana yang semakin menekan, memaksa.
Ketika si itik bertanya apa yang sedang gerangan lukis, Priya tak menggubris. Dianggapnya pertanyaan itu hanya berupa angin lalu.
“Itu lukisan?” tanya si itik.
“Bukan,” jawab Priya ketus.
“Lalu?”
“Ini pesan.” Priya hanya menjawab pendek, dengan bibirnya yang mengerucut, dihiasi dengan dahi yang mengkerut.
“Apa isinya?”
“Untuk apa kau tahu?” kata Priya, “lagian kau bukan bagian dari kaum kita,” lanjutnya sambil memalingkan wajah pada si itik.
Itik terdiam. Diam seribu bahasa. Tak berani melawan Priya yang merupakan cucu majikannya. Ia memang terkenal seperti itu pada saat-saat tertentu. Dapat berubah sewaktu-waktu.
Si itikpun melihat ke sekeliling. Ditemuinya sebuah titik kejadian. Menatap lurus-lurus ke sana. Tatapannya kosong.
Ia melihat seekor ayam jantan yang sedang mengejar si betina. Awalnya, si betina lebih sering menghindar ketika didatangi si jantan. Tapi karena beberapa patukan keras menyodok lubang kewanitaan si betina yang terdapat di punggungnya, ia mulai luluh. Berkokok, dan terus berkokok sambil mengepakkan sayapnya.
Dan ironisnya, ayam jantan itu adalah induk si itik yang sedang berdiri tepat di samping lukisan Priya. Tapi mungkin tak terasa ironis sedikitpun bagi para itik yang pernah merasakannya.
***
Priya pikir ayam itu sedang bertengkar. Tapi ternyata tidak.
“Enak, ya. Kau tak perlu khawatir.”
“Tentang apa?” tanya si itik kaget, mendengar suara Priya yang menyambar tiba-tiba.
Priya hanya menjawab dengan menunjuk ke arah titik kejadian itu dengan dagunya.
“Kau hanya perlu melihat kejadian itu, tanpa perlu merangkai kata ‘Itu bapakku’,” lanjut Priya. Si itikpun dibuat kebingungan. Apa maksudnya?
“Lagipula, emakmu dapat melakukannya juga sewaktu-waktu dengan misalnya yang di sana,” Priya menunjuk ke arah ayam jantan lain yang sedang mematuki beras-beras yang berceceran.
“Aku bahkan tak mengerti maksudmu,” jawab si itik sambil memiringkan kepalanya ke kiri.
“Kau memang tak mengerti. Karena tak punya perasaan, juga akal budi.”
Alasan mengapa Priya berkata seperti itu memang sepertinya sepele. Padahal tidak.
Itu disebabkan oleh bapaknya, yang telah mewarisi benih-benih kebencian, untuk membenci orang yang mewariskan.
Waktu itu hari mulai sore, hampir pukul empat. Tapi suasana bagaikan sudah malam saat ibunya mendengar kabar tersebut. Hatinya suram mirip langit malam.
Bagaimana tidak? Sebulan sebelum resepsi dilaksanakan, ia malah mendengar kabar bahwa calonnya telah melakukan hal yang sama seperti ayah si itik. Tambah suram lagi jika pikiran tak dapat membatalkan resepi tersebut terlintas dalam benaknya. Karena sudah sebulan lagi waktunya. Bayangkan saja jika seorang gadis perawan harus menikahi lelaki yang sudah kehilangan keperjakaannya.
Parahnya lagi, ia melakukan yang lebih dari sekedar nikah. Ia mengawininya. Sikap bapaknya seakan sama dengan yang ayah si itik lakukan, walaupun tentu bukan di pekarangan rumahnya.
Dan dari sebuah perbuatan paling terhina itulah, Priya lahir. Seorang anak yang sungguh malang, yang harus menanggung warisan bapaknya seumur hidup.
Walau tadinya ia sudah berminat memaafkan perbuatan ternoadai tersebut, tapi tak jadi dilakukannya setelah melihat telinga bapaknya berkucur darah. Emak lagi yang mengobatinya. Emak lagi, emak lagi. Dari situlah Priya mulai mengetahui kalau wanita ketiga yang dikawini bapaknya beberapa waktu lalu mulai tahu kalau hidup keluarga Priya lebih makmur daripada keluarganya, lalu memukuli kepala bapaknya dengan gesper hitam.
Meski Priya sedikit menyukai sisi adil bapaknya dengan memberi lebih pada yang sah, ia tetap tak bisa melepeh mentah-mentah apa yang telah diwariskan dari awal kehidupannya. Kata balas dendam yang tadinya tak ada di kamusnya, sekarang ia tulis dengan bulpoin bewarna merah dengan pengertian, ‘sesuatu yang harus kau tunjukkan kelak dengan keberhasilanmu untuk mengimpasi warisan bapak’.
***
“Lalu pernahkah kau bertanya pada ibumu mengapa masih melanjutkannya?”
“Pernah. Kau?”
“Tentu tidak. Karena indukku tak mungkin melanjutkan hidupnya hanya dengan satu ekor pejantan saja.”
“Itu karena ibumu ayam. Emakku? Ia seekor angsa. Bacalah filosofi kehupan angsa kelak saat kau bisa membaca.”
Ya, gadis berambut kriting ini memang pernah menanyakannya. Dengan segala keberanian, ia bertanya pada emaknya. Mengapa gerangan masih ingin menetap di rumah penuh dosa ini saat sudah mengetahui bahwa ialah yang kedua dari ketiganya.
Emak yang sungguh penyabar inipun mejawab, kalau ia pernah bermimpi tentang pasangannya yang hanya mencintai dirinya, bukan yang lain. Walaupun yang dibiayai ada tiga atap keluarga.
Jadi begitu mak, hanya soal cinta?
Lalu ia pula yang bertanya empat mata pada bapaknya dengan pertanyaan yang pastinya berbeda. Karena bapaknya, hidup di tiga dunia.
Jawabannya lumayan tak masuk akal. Karena ia banyak berhutang pada mereka yang dibanguninya sebuah keluarga. Kecuali emak, yang ternyata memang merupakan cinja sejatinya.
Jadi begitu pak, istilahnya, kau hanya mengawini atas dasar balas budi? Apakah daya tangkapku kali ini benar?
“Lalu? Itu semua ada hubungannya dengan lukisan ini?” tanya si itik sambil menginjakkan kakinya dua kali di dekat goresan-goresan tanah padat itu.
“Ini bukan lukisan, tik. Ini tulisan.”
“Apa bacanya?”
“Aku bingung, kau mengerti bahasa manusia, tapi tak bisa membaca.”
“Dulu aku bisa membaca. Tapi aku memutuskan untuk tak melanjutkannya karena pejantan itulah yang mengajariku.”
Si itik mengarahkan pandangan pada titik kejadian yang masih berlanjut itu.
ERIKA MULYADI
XI-IBB / 3
Jangan Salahkan Dia
Oleh: Keny Elizabeth
Perubahan dalam diriku, bukan karena orang lain tapi karena kamu yang tidak pernah bisa menghargai hubungan kita. Semuanya sia-sia, kamu selalu menyalahkanku dan tidak pernah menganggapku ada. Kamu tidak pernah melihat seberapa besar cintaku, seberapa besar aku menginginkanmu di hidupku. Kamu selalu merasa yang paling benar, tapi kamu salah. Kamu menghancurkan harapanku, membiarkanku jatuh dan tak berdaya. Cintamu hanyalah sebuah janji palsu dan selamanya adalah janji. Aku tidak bisa menahan rasa sakit yang kamu berikan. Aku tidak bisa menahan air mataku melihat kamu mempermainkan hidupku dan sekarang aku mencoba menghapus air mataku dan berdiri di atas rasa sakit yang kau tinggalkan padaku.
Kehadiran orang-orang di sekitarku membuka mataku, menorehkan senyum di wajahku meskipun sangat sulit untuk tersenyum. Tetapi aku harus meninggalkan semua mimpi buruk ini. Itu bukan salahnya yang membuat kita terpisah. Itu bukan salahnya yang membuatku menyerah padamu. Dan itu bukan salahnya yang membawaku pergi menjauh darimu. Tidak pernah menghargai hubungan kita, tidak pernah menjaga ataupun berjuang. Cinta kita runtuh karena kamu. Kamu adalah yang mengakhiri hubungan kita, bukan orang lain. Jadi jangan salahkan dia karena membuat hubungan kita gagal. Kamu adalah yang selalu membuat masalah. Meskipun tidak ada dia, kamu dan aku memang harus berpisah.
Aku harus berterimakasih padanya yang membuatku tersenyum dan mengembalikan warna dalam hidupku. Dia memberikan apa yang tidak pernah kau berikan padaku. Kamu harus tahu selama kita bersama, aku tidak pernah membohongimu dan yang perlu kamu tahu, aku tidak akan kembali lagi. Aku sudah berjanji pada diriku dan aku tidak akan membiarkan diriku disakiti lagi.
Sebuah surat untuk hatiku yang terluka: “Aku tahu kamu punya luka yang sangat dalam dan aku tahu entah bagaimanapun caranya, aku tidak akan bisa menghapus kenangan yang telah terukir. Aku tahu kamu telah disakiti berulang kali. Aku tahu semuanya dan aku berjanji tidak akan membiarkan orang lain menyentuhmu sekarang. aku sudah tidak percaya lagi dengan yang namanya cinta. Kamu adalah hati milik seorang perempuan yang kuat, jadi kamu tidak bisa menyerah begitu saja. Aku tahu beberapa hal tidak berjalan sesuai yang kamu harapkan. Tapi percayalah padaku, kamu tidak perlu merasakan hal-hal seperti itu lagi. Kamu tidak perlu memohon untuk cinta. Kamu hanya perlu menunjukkan pada dunia bahwa kamu bisa melalui ini semua. Berhenti mengharapkan orang lain. Orang-orang yang meninggalkanmu, memang harus meninggalkan. Jika bukan hari ini, mungkin suatu saat. Jadi, lebih cepat lebih baik.”
Perubahan dalam diriku, bukan karena orang lain tapi karena kamu yang tidak pernah bisa menghargai hubungan kita. Semuanya sia-sia, kamu selalu menyalahkanku dan tidak pernah menganggapku ada. Kamu tidak pernah melihat seberapa besar cintaku, seberapa besar aku menginginkanmu di hidupku. Kamu selalu merasa yang paling benar, tapi kamu salah. Kamu menghancurkan harapanku, membiarkanku jatuh dan tak berdaya. Cintamu hanyalah sebuah janji palsu dan selamanya adalah janji. Aku tidak bisa menahan rasa sakit yang kamu berikan. Aku tidak bisa menahan air mataku melihat kamu mempermainkan hidupku dan sekarang aku mencoba menghapus air mataku dan berdiri di atas rasa sakit yang kau tinggalkan padaku.
Kehadiran orang-orang di sekitarku membuka mataku, menorehkan senyum di wajahku meskipun sangat sulit untuk tersenyum. Tetapi aku harus meninggalkan semua mimpi buruk ini. Itu bukan salahnya yang membuat kita terpisah. Itu bukan salahnya yang membuatku menyerah padamu. Dan itu bukan salahnya yang membawaku pergi menjauh darimu. Tidak pernah menghargai hubungan kita, tidak pernah menjaga ataupun berjuang. Cinta kita runtuh karena kamu. Kamu adalah yang mengakhiri hubungan kita, bukan orang lain. Jadi jangan salahkan dia karena membuat hubungan kita gagal. Kamu adalah yang selalu membuat masalah. Meskipun tidak ada dia, kamu dan aku memang harus berpisah.
Aku harus berterimakasih padanya yang membuatku tersenyum dan mengembalikan warna dalam hidupku. Dia memberikan apa yang tidak pernah kau berikan padaku. Kamu harus tahu selama kita bersama, aku tidak pernah membohongimu dan yang perlu kamu tahu, aku tidak akan kembali lagi. Aku sudah berjanji pada diriku dan aku tidak akan membiarkan diriku disakiti lagi.
Sebuah surat untuk hatiku yang terluka: “Aku tahu kamu punya luka yang sangat dalam dan aku tahu entah bagaimanapun caranya, aku tidak akan bisa menghapus kenangan yang telah terukir. Aku tahu kamu telah disakiti berulang kali. Aku tahu semuanya dan aku berjanji tidak akan membiarkan orang lain menyentuhmu sekarang. aku sudah tidak percaya lagi dengan yang namanya cinta. Kamu adalah hati milik seorang perempuan yang kuat, jadi kamu tidak bisa menyerah begitu saja. Aku tahu beberapa hal tidak berjalan sesuai yang kamu harapkan. Tapi percayalah padaku, kamu tidak perlu merasakan hal-hal seperti itu lagi. Kamu tidak perlu memohon untuk cinta. Kamu hanya perlu menunjukkan pada dunia bahwa kamu bisa melalui ini semua. Berhenti mengharapkan orang lain. Orang-orang yang meninggalkanmu, memang harus meninggalkan. Jika bukan hari ini, mungkin suatu saat. Jadi, lebih cepat lebih baik.”
Secercah Cahaya
Oleh: Satrya Paramanandana
Kuberjalan di tengah kegelapan. Sunyi senyap. Hening.
Demikianlah hidupku, begitu hampa dan hambar.
Tak kusangka, sebuah cahaya muncul dari tempat tak terduga.
Dia adalah seorang bidadari, yang kelak menerangi hari-hariku.
“Woi Rama! Lu liburan ke mana aja?,” tanya Rendi, sahabat karibku. “As always, mengurung diri di rumah tercinta,” balasku dengan ogah-ogahan. Siapa yang tidak bosan, liburan 1 bulan hanya dihabiskan untuk bermain konsol game dan laptop, dikarenakan budget di kantong yang menipis . Dan siklus itu berlangsung selama 3 minggu liburan. “Aku dong, pergi ke Jakarta main di Mall of Indonesia,” pamer si Rendi. Evan, temanku yang lain, pamer akan skor dalam permainan Pump it Up. “Jangan sedih dulu, Ram. Entar kira ke Matos aja, ‘kan nanti pulang pagi,” hibur Rendi.
Hari itu adalah hari pertamaku masuk sekolah di jenjang 2 SMP. Dengan sambutan sarkastik dari teman-teman yang semacam, “Tambah tinggi aja lu, Ram”,”Tumben agak kurusan”, dan lain sebagainya, membuat suasana hati semakin muram. Suara teriakan bersahut-sahutan di kelas dan bentakan guru wali kelas semakin merusak suasana hati. Tetapi, terjadi sebuah kejadian tak terlupakan di saat perubahan tempat duduk.
“Baik anak-anak. Saatnya kita merolling posisi tempat duduk kalian,” yang disambut dengan teriakan, “Bu Guru payah”, “Gile lu, bu !”, serta kata-kata ‘kebun binatang’. “Kalian mau protes bagaimanapun, itu percuma. Ini sudah keputusan bulat,” tukas Bu Guru. “Tanpa perlu berlama-lama lagi, kamu yang situ, pindah ke bangku depan sebelah kiri saya ini !”, sembari menunjuk ke arahku. Dengan langkah lunglai, wajah lesu, dan sorakan dari teman-teman, kuberjalan ke arah yang ditunjuk. Namun, semua itu berubah ketika aku melihat ke bangku kiriku. Seorang bidadari telah menungguku.
Perasaan apakah ini? Gembira, terharu, dan semangat yang muncul tiba-tiba, bercampur aduk menjadi satu. Tak pernah kualami perasaan kompleks ini sebelumnya. Seorang gadis berkacamata adalah penyebab perasaan ini. Orang lain bisa berkata, apa spesialnya? Apa yang membuat kamu terpikat? Dia itu orang yang biasa aja. Tidak, aku tidak melihat dari fisiknya. Entah kenapa rasa ini memicu jantung untuk berdegup lebih kencang serta tangan yang bergemetar. Ketika terdengar suara, “Hai, aku Marie. Nama kamu siapa?” dunia seakan-akan runtuh dan pintu surga terbuka lebar.
“Perkenalkan, aku Rama. Dulu aku di kelas 7C,” sahutku sambil menundukkan kepala. “Hei, kamu punya Facebook, gak ?”,”Ada sih, Rama Tirta”,”Nanti kalau ada invitation dari Rei Vine-chan, tolong accept ya?”,”Oke, siap !” jawabku. Entah aku kesambet apa, kok tiba-tiba aku tanya, “Nomor hape kamu berapa?” Ia menulis di sepotong kertas dan memberikannya seraya berkata, “Check lewat WhatsApp aja. Pulsaku habis untuk paketan itu soalnya.” Hati bersorak-sorai dan berteriak, “Yeah, akhirnya berhasil!”
Dewi rembulan dan pasukan bintangnya mulai menampakkan wujudnya. Angin malam bertiup perlahan. Aku yang muncul dari kamar mandi sambil memakai baju, mulai mengotak-atik hape serta mengetik, “Hai, ini Rama. Tolong disave ya :v.” Ting-tong, bunyi notifikasi hapeku berbunyi. Tertulis di situ, “Oh, hai ! By the way, kamu udah kerja PR?”,”Sudah dong..” Tentu saja aku belum mengerjakannya. Tetapi, kalau sang bidadari tahu, tentu saja semuanya tidak akan berakhir dengan baik.
Ada sebuah teori, cahaya tak bisa ditangkap. Tak bisa digenggam. Hanya bisa dilihat dan dinikmati kehangatannya. Benar, teori itu terbukti. Secercah cahaya yang fana, berwujud tetapi tak bisa digenggam. Cahaya itu adalah harapanku, api hidupku. Harapanku? Benar, tetapi harapan tak harus selalu terwujud, bukan?
Kuberjalan di tengah kegelapan. Sunyi senyap. Hening.
Demikianlah hidupku, begitu hampa dan hambar.
Tak kusangka, sebuah cahaya muncul dari tempat tak terduga.
Dia adalah seorang bidadari, yang kelak menerangi hari-hariku.
“Woi Rama! Lu liburan ke mana aja?,” tanya Rendi, sahabat karibku. “As always, mengurung diri di rumah tercinta,” balasku dengan ogah-ogahan. Siapa yang tidak bosan, liburan 1 bulan hanya dihabiskan untuk bermain konsol game dan laptop, dikarenakan budget di kantong yang menipis . Dan siklus itu berlangsung selama 3 minggu liburan. “Aku dong, pergi ke Jakarta main di Mall of Indonesia,” pamer si Rendi. Evan, temanku yang lain, pamer akan skor dalam permainan Pump it Up. “Jangan sedih dulu, Ram. Entar kira ke Matos aja, ‘kan nanti pulang pagi,” hibur Rendi.
Hari itu adalah hari pertamaku masuk sekolah di jenjang 2 SMP. Dengan sambutan sarkastik dari teman-teman yang semacam, “Tambah tinggi aja lu, Ram”,”Tumben agak kurusan”, dan lain sebagainya, membuat suasana hati semakin muram. Suara teriakan bersahut-sahutan di kelas dan bentakan guru wali kelas semakin merusak suasana hati. Tetapi, terjadi sebuah kejadian tak terlupakan di saat perubahan tempat duduk.
“Baik anak-anak. Saatnya kita merolling posisi tempat duduk kalian,” yang disambut dengan teriakan, “Bu Guru payah”, “Gile lu, bu !”, serta kata-kata ‘kebun binatang’. “Kalian mau protes bagaimanapun, itu percuma. Ini sudah keputusan bulat,” tukas Bu Guru. “Tanpa perlu berlama-lama lagi, kamu yang situ, pindah ke bangku depan sebelah kiri saya ini !”, sembari menunjuk ke arahku. Dengan langkah lunglai, wajah lesu, dan sorakan dari teman-teman, kuberjalan ke arah yang ditunjuk. Namun, semua itu berubah ketika aku melihat ke bangku kiriku. Seorang bidadari telah menungguku.
Perasaan apakah ini? Gembira, terharu, dan semangat yang muncul tiba-tiba, bercampur aduk menjadi satu. Tak pernah kualami perasaan kompleks ini sebelumnya. Seorang gadis berkacamata adalah penyebab perasaan ini. Orang lain bisa berkata, apa spesialnya? Apa yang membuat kamu terpikat? Dia itu orang yang biasa aja. Tidak, aku tidak melihat dari fisiknya. Entah kenapa rasa ini memicu jantung untuk berdegup lebih kencang serta tangan yang bergemetar. Ketika terdengar suara, “Hai, aku Marie. Nama kamu siapa?” dunia seakan-akan runtuh dan pintu surga terbuka lebar.
“Perkenalkan, aku Rama. Dulu aku di kelas 7C,” sahutku sambil menundukkan kepala. “Hei, kamu punya Facebook, gak ?”,”Ada sih, Rama Tirta”,”Nanti kalau ada invitation dari Rei Vine-chan, tolong accept ya?”,”Oke, siap !” jawabku. Entah aku kesambet apa, kok tiba-tiba aku tanya, “Nomor hape kamu berapa?” Ia menulis di sepotong kertas dan memberikannya seraya berkata, “Check lewat WhatsApp aja. Pulsaku habis untuk paketan itu soalnya.” Hati bersorak-sorai dan berteriak, “Yeah, akhirnya berhasil!”
Dewi rembulan dan pasukan bintangnya mulai menampakkan wujudnya. Angin malam bertiup perlahan. Aku yang muncul dari kamar mandi sambil memakai baju, mulai mengotak-atik hape serta mengetik, “Hai, ini Rama. Tolong disave ya :v.” Ting-tong, bunyi notifikasi hapeku berbunyi. Tertulis di situ, “Oh, hai ! By the way, kamu udah kerja PR?”,”Sudah dong..” Tentu saja aku belum mengerjakannya. Tetapi, kalau sang bidadari tahu, tentu saja semuanya tidak akan berakhir dengan baik.
Ada sebuah teori, cahaya tak bisa ditangkap. Tak bisa digenggam. Hanya bisa dilihat dan dinikmati kehangatannya. Benar, teori itu terbukti. Secercah cahaya yang fana, berwujud tetapi tak bisa digenggam. Cahaya itu adalah harapanku, api hidupku. Harapanku? Benar, tetapi harapan tak harus selalu terwujud, bukan?
Luke
Pertanyaannya membuat aku teringat akan kenangan itu. Semuanya lengkap. Ada anakku tercinta, ayahnya, dan aku. Hidup kami penuh dengan tawa dan canda. Luke. Namanya Luke, anak satu-satunya aku yang aku miliki. Mendapatkannya butuh pengorbanan yang cukup. Bertahun-tahun setelah pernikahanku dengan suamiku, kami berusahan untuk mendapatkan momongan. Setiap hari aku dan suamiku berdoa memohon kepada Sang Pencipta agar kami segera diberikan seorang anak, yang nantinya akan merawat kami berdua. Setelah enam tahun menanti, akhirnya kami mendapat seorang anak laki-laki yang sangat lucu. Hari-hari kami jalani dengan penuh sukacita.
Tiga tahun setelah Luke lahir, suamiku meninggalkan kami, dimana saat itu baru saja Luke belajar berbicara. “Kenapa ayah hanya diam bunda??” aku menarik nafas sambil menghapus air mata, lalu aku berkata kepadanya bahwa ayahnya sudah di Surga, kupeluknya dengan erat. Luke hanya tersenyum. Dia tumbuh menjadi seorang anak yang cerdas serta aktif di sekolahannya. Ketika itu umurnya baru tujuh tahun, aku selalu mengantar dan menemaninya latihan sepakbola di sekolahnya. Meskipun dia bukanlah anak yang handal dalam bidang ini, tapi aku sebagai orangtuanya akan selalu mendukungnya. Aku selalu duduk diantara orangtua yang lain, dan selalu tersenyum meskipun terkadang dia salah memasukan bola ke daerah lawan, dengan semangat yang penuh ia selalu mencoba untuk memasukan. Ada rasa kecewa dalam hati saat pertandingan dia hanya sebagai pemain cadangan, dan jarang sekali ia bermain.
Terkadang aku merasa sangat lelah, karena sebelum mengantar Luke latihan, aku harus membanting tulang terlebih dahulu untuk membayar biaya sekolah dan kebutuhan sehari-hari. Meskipun ada ibu yang menjaganya di rumah, tak mungkin kuserahkan semuanya kepadanya. Aku dan ibu selalu bergantian menjaga Luke. Semua letih lesu itu hilang ditelan bumi saat aku melihat senyum dan tawanya. Sampai akhirnya dia pergi sendiri, dan saat itu ada pertandingan. Dengan wajahnya yang polos, Luke memohon kepada pelatihnya agar kali ini dia diizinkan untuk mengikuti pertandingan ini, Karena sang pelatih kasihan melihat wajahnya akhirnya diberi kesempatan hanya saja dibabak pertama, dengan penuh semangat Luke menendang bola dan mencetak gol untuk timnya. Pelatihnya sangat senang dan tepukau melihat perkembangan Luke. Saat istirahat pelatihnya memujinya “Wah… hebat sekali kamu, Luke. Pasti orangtuamu bangga padamu.” Seketika itu mata Luke berkaca-kaca. Pelatihnya kebingungan. “Kamu kenapa?? Bukan kah ini yang kamu inginkan? Lalu kenapa kamu menangis?? Mana mamamu, bisanya beliau duduk diantara orangtua yang lain, pasti ia bangga melihat kamu Luke.” Mata yang mencari-cari mamanya Luke. Sambil menghapus air mata Luke menjawab, bahwa selama kedua orang tuanya hidup Luke belum bisa membahagiakan mereka, tapi Luke percaya bahwa kedua orang tuanya di Surga akan bangga melihat dia dapat mencetak gol. Mamanya baru saja meninggal seminggu yang lalu, karena kecelakaan yang menimpanya, yang mengakibatkan beliau meninggal seketika.
Iya anakku. Aku sudah bertemu dengan ayahmu. Kami bangga melihat engkau tumbuh menjadi anak yang pintar, kami senantiasa mendoakanmu di sini. Aku masih ingat saat pemakaman itu, Luke sempat bertanya, apakah aku mengikuti ayahnya. Dan air mata pun mengalir dipipiku saat peti akan ditutup. Aku senang melihat Luke senang.
Luke anakku, aku senang melihat kau senang, tumbuhlah kau menjadi anak yang baik. Doaku besertamu. –Bunda-
Hantu dan Ksatria
Pada malam itu seperti biasa aku pergi menuju bar untuk minum rum. Ternyata datang pada malam itu suasananya sangat berbeda, biasanya celoteh ramai sampai mengalahkan suara suasana berperang, bahkan ada yang mabuk kepayang sampai menabrak kursi atau meja. Tetapi berbeda sekali malam ini, orang-orang diam seribu bahasa sambil meneguk minuman dengan perasaan cemas seperti mau mati. Aku kemudian memesan minuman dan mengambil kursi, tetapi duduk pun merasa tidak nyaman karena memakai sarung perang dan memakai baju besi.
Kemudian aku meminum rum dan bertanya kepada pelayan bar, ”Kenapa hari ini orang-orang tampak berbeda tak seperti biasanya?”. Jawab pelayan bar, ”Mereka sedang ketakutan”. ”Takut pada apa?”, tanyaku lagi. ”Mereka takut pada wanita psikopat yang berkeliaran belakangan ini”, jawab pelayan itu. Mendengar jawaban itu, aku langsung berpikir, “Ah, yang pertama putri yang gagal aku dekati, sekarang wanita psikopat? Ahh..sial sekali hidupku ini”. Aku pun memulai mencari informasi tentang wanita psikopat ini dengan bertanya pada pelayan bar itu lagi. ”Memangnya apa yang dia lakukan sampai membuat orang-orang ketakutan?”. ”Dia membunuh laki-laki untuk dimakan organnya”, jawab pelayan itu. ”Bagaimana ciri-cirinya?”, tanyaku dengan semakin penasaran. ”Dia cantik, memikat, dan berjalan setiap malam. Ah… jika kau melihatnya, pasti langsung terpikat”, jawabnya lagi. ”Ah, aku pasti tidak akan merasa terpikat karena aku sedang sakit hati gara-gara putri yang gagal kudapatkan”, pikirku dalam hati sambil menghabiskan minuman.
Setelah selesai minum aku pergi keluar untuk berkeliling, dan suasana diluar bar pun sungguh mencekam. Sepi, sunyi tidak ada orang dan awan mendung pun tampak jelas dari pandangan. Dengan perasaan deg-degan aku mulai berjalan sambil memegang sarung pedang karena terbayang jawaban pelayan bar tadi. Lalu, aku melihat ada seorang wanita berjalan dan aku mencoba mengikutinya, setelah itu aku kehilangan jejaknya. Tiba-tiba dia menyerangku dengan pisaunya dan akhirnya aku menyerangnya dengan pedangku.”Klang!”. Pedangku mengenai tangannya dan akhirnya dia tersungkur kesakitan. ”Hentikan, sebenarnya aku tidak ingin membunuhmu”, kata wanita itu sambil memegang tangannya yang bercucuran darah. ”Baiklah, apa maumu?”, tanyaku ragu. ”Sebenarnya aku tertarik padamu”, jawabnya. ”Hah, aku tidak akan tertipu dengan tipu muslihatmu!”, geramku padanya. ”Tidak, ini serius, aku mengatakan yang sejujurnya”, jawabnya.
Mendengar jawabannya dan melihat matanya yang mulai berkaca-kaca,aku mulai berpikir kalau dia bersungguh-sungguh. Kemudian aku mengulurkan tangan ku untuk menariknya berdiri, dan memborgol tangannya sebagai jaminan agar dia tidak melakukan hal yang berbahaya. Melihat wajahnya memang membuatku terpikat, pikiranku berkata, jangan masuk ke dalam perangkap harimau. ”Jika kau mendegar gosip tentang aku yang memakan laki-laki atau melakukan tindakan kejam, jangan percaya omong kosong itu”, katanya padaku. ”Hah? Benarkah itu?”, tanyaku dengan penuh penasaran. ”Ya, benar ada orang yang ingin menyingkirkanku”, jawabnya dengan rintihan.
Tiba-tiba aku melihat seseorang berlari dengan memakai baju yang sama persis seperti wanita yang kubawa sekarang, dan ia membawa karung. Ku ikuti dia dengan mengikuti jejak darah yang menetes di jalan. Jejak darah itu berhenti di sebuah rumah yang cukup tua dan angker. Kemudian aku melepas borgol wanita itu dan memberikan pisaunya lagi untuk berjaga-jaga. Aku dan wanita itu menuju ke lantai atas dengan menaiki tangga yang melingkar, ditambah dengan suasana yang membuat bulu kuduk merinding. Setelah menaiki ratusan anak tangga, akhirnya sampai pada sebuah ruangan yang bercahaya. Kutarik pedangku dari sarungnya dan mendobrak pintu secara langsung.
Pintu pun terbuka dan aku melihat pemandangan yang sangat mengerikan. Darah membanjiri ruangan itu, dan aku dapat melihat potongan tubuh berserakan dimana mana. Aku pun juga melihat orang itu dan ternyata benar dikatakan wanita itu, bahwa dia tidak bersalah. Dengan berani aku langsung mengayunkan pedang ku kepadanya, namun seranganku dapat ditangkis olehnya. Ternyata dia cukup lihai juga, akhirnya terjadilah pertarungan yang sengit dan aku berhasil menusuknya. Seketika itu juga dia terkapar dan tewas. Penduduk pun datang ke tempat itu dan melihat bukti yang sangat mutlak bahwa yang membunuh para pria itu bukan wanita yang selama ini mereka tuduh.
Lalu, wanita itu memelukku sambil menangis dan mengucapkan, ”Terima kasih karena sudah melindungiku”, dengan tangisan bahagia. Sambil mengelus-elus punggungnya, aku berkata, ”Tidak apa – apa, sudah selesai sekarang”.
Stroberiku
Namaku Diva. Aku hanyalah seorang wanita. Ada sebuah pengalaman yang tak terlupakan bagiku. Aku ingat, waktu itu kala senja mulai merambat dan langit sore yang cerah berawan, menunjukan suasana pantai yang sangat sepi. Aku duduk di sebelahnya, dan aku bersandar di bahunya yang sangat nyaman itu. Aku melihat pemandangan, dan menoleh sesekali untuk melihat wajah laki-laki yang kucintai. Sesekali aku menyaut perkataanya. Matanya yang coklat dan tajam, serta bibirnya yang tebal itu selaras dengan kulitnya yang coklat, yang selalu terlihat manis di depan mataku. Aku sangat mencintainya. Namanya Rafael, dia adalah kekasihku sejak awal bulan Maret setahun lalu. Aku memang kebetulan bertemu dengannya, namun akhirnya aku jatuh cinta kepadanya seiring waktu berjalan. Ini merupakan ke-3 kalinya usai pertengkaranku dengannya akibat rasa cemburuku dan banyaknya gosip yang beredar tentang dia yang selalu dekat dengan wanita lain. Walau dikatakan tidak, sebenarnya aku merasa cemburu setiap kali dia dekat dengan wanita lain. Tapi apa daya aku hanya bisa menyembunyikan rasa sakitku ini sendirian. Saat ini pula, bersama dia, aku ingin menyampaikan sesuatu kepadanya, walaupun mungkin akan berat, tetapi aku ingin menyampaikannya kepadanya.
Satu jam sudah kami di sini dan aku hanya diam tak dapat berbicara dengannya. Entah kenapa, lidahku selalu kelu tiap kali aku ingin mengutarakan sesuatu kepadanya, atau bila tidak, aku sering lupa apa yang ingin aku sampaikan padanya. Aku hanya dapat diam dan bersandar di bahunya untuk melihat suasana pantai itu. Tiba-tiba dia memulai percakapan kami dengan candaan, dan menggodaiku untuk memancing emosiku. Aku selalu kesal setiap kali dia menggangguku, dan dia selalu tertawa setiap kali melihat dirinya berhasil membuatku marah. Dia selalu tertawa lepas, sementara aku tak bisa mengelak senyumannya itu yang selalu membuatku luluh. Aku mulai berani dan bisa bertanya kepadanya.
”Say… apakah kau masih mencintai dan menyayangiku? Aku hanya ingin tau jawabanmu…”, kataku.
“Iya, memang kenapa?”, jawabnya dengan santai.
“Aku merasa kau mulai berubah…”
“Apa maksudmu yang berubah?”
“Kamu tau aku emang nggak pernah memberi tahu kamu sesuatu. Sebenarnya aku sangat suka stroberi dari kecil. Papaku suka menanam stroberi bersamaku. Setiap musim panen, aku biasanya memanggil teman-temanku untuk datang ke rumahku untuk belajar kelompok, namun sebenarnya tujuannya bukan hanya belajar tetapi juga untuk memetik stroberi bersama-sama. Kadangkala kita bertengakar, karena sebuah stroberi tak mungkin bisa dimiliki oleh 2 orang. Maka dari itu, mereka selalu berebutan untuk mendapatkannya, dan kau pasti tau kan bentuk stroberi itu bermacam-macam, ada yang besar dan ada yang kecil. Rasanya juga ada yang manis dan ada yang kecut, tetapi walaupun stroberi sangat kecut, aku sangat menyukainya. Dan aku akan memakannya walaupun aku tak tau apa yang akan terjadi padaku nanti jika makan terlalu banyak. Mungkin juga aku akan sakit tapi tak akan kupikirkan. Aku selalu suka dengan stroberi, dan juga aku nggak bisa melupakan rasa dari stroberi itu. Memang kemanisannya akan selalu kuingat dan kekecutannya selalu kulupakan. Meskipun aku sering memakan buah-buah yang lain seperti apel atau pun jeruk, entah kenapa stroberi itu tak bisa tergantikan di benakku. Aku selalu menyukainya dan akan terus menyukainya walaupun tak tau akan sampai kapan. Begitu juga dengan perasaanku kepadamu, apakah kau sadar sudah berapa kali kau buatku menangis? Untuk berapa kali dan berapa lama lagi aku harus menahan semua sakit yang kupendam ini. Kau selalu mengulangnya, kau juga selalu berkata tak akan melakukan itu lagi. Tetapi tetap saja, yang aku lihat itu tak sama seperti yang kamu katakan. Kau telah berubah, dan kau bilang ini lebih dari sekedar pertemanan, tapi sama saja terlihat seperti pertemanan biasa bagiku. Ya, aku tau aku tak bisa melarangmu karena aku mungkin akan mengatur kamu, namun aku juga tak mau mengekangmu. Aku hanya ingin bertanya satu hal lagi kepadamu...”
“Aku tak bisa banyak bicara... Tapi apa itu apa yang ingin kau tanyakan?”,jawabnya kepadaku.
“Apakah kau masih mencintai dan menyayangiku? Sampai kapan aku akan menahan sakit dan berapakali aku harus menangis karena itu? Andaikan kau benar-benar serius denganku, aku hanya menginginkan bukan meminta kepada kamu untuk mengerti perasaanku, mengerti apa yang aku rasakan. Dan apabila kau tidak akan meneruskan hubungan kita ini, hanya satu yang akan kupastikan. Andaikan aku putus denganmu, aku akan memilki tiga jalan yaitu apakah aku akan mendapat penggantimu, atau aku menunggumu, atau aku akan menutup hatiku dan aku akan masuk menjadi seorang biarawati. Dengan begitu, aku akan menyerahkan diriku sepenuhnya kepada Tuhan.”
***
Subscribe to:
Comments (Atom)